Friday, June 12, 2009

Kyai Jalal, Kyai Durrakeman, Kyai Dulghani: pinangan

oleh: Galang Swatantra Ekajati

Aku mencintai seorang perempuan yang sangatlah cantik jelita…rajin mengaji, rajin shalat, berhijab, anaknya kaji, dia sendiri sudah pernah ke baitulloh. Perangainya santun, matanya menyejukkan, …. Pokoknya intinya SEMPURNA.

Sebelum bermaksud meminang gadis tersebut, aku sowan dulu ke tiga guruku (entah mereka masih mengakui aku sebagai murid apa tidak, aku tak tau, soalnya aku sowan ke mereka hanya ketika aku membutuhkan sesuatu dari mereka),…Yang pertama, Kyai Jalal, Aku ketok pintu sembari mengucapkan salam. Tanpa membalas salamku kyai jalal berkata “Pergi sana, Aku tau maksudmu datang ke sini, LA KOWE KI SOPO? WANI WANINE NIAT RABI KARO ANAK WEDOK KESAYANGANKU IKU”. Baru aku tau kalo perempuan sempurna yang menjadi idamanku itu adalah anak murid kyai jalal juga. Bedanya dengan ku, perempuan itu lebih sering mengunjungi kyai Jalal meskipun hanya mampir untuk mengucapkan salam. Bahkan baru aku tahu bahwa perempuan idamanku itu mengunjungi kyai Jalal lebih dari 5 waktu sehari, ditambah lagi dia sering membawakan kyai Jalal bingkisan atau bahkan sayur yang dia masak di rumah. Ohhh…rupanya ini yang menyebabkan kyai Jalal begitu menyayangi gadis idamanku itu?..Karena niatku sudah diubun-ubun untuk mengawini gadis ini, maka aku memohon mohon kepada kyai Jalal, sampai akhirnya kyai Jalal membuka pintu, namun bukan sambutan hangat kuterima, tapi…”cuihh. .”
semburan air ludah muncrat dari mulut sang kyai ke mukaku. Aku menunduk…aku tau kyai jalal muak denganku..atau mungkin bukan denganku tapi dengan sikap TAK TAU DIRI KU. Tapi seiring dengan semburan air ludah tadi, sang kyai Jalal melempar bungkusan ke tanganku sembari membanting pintunya sehingga pintu itu hampir mengenai mukaku. Dari dalam biliknya kyai jalal berkata, “jangan sekali-kali kesini lagi dengan keadaan seperti ini. Bawa bungkusan itu ke kyai Durakeman”. “jangan sekali kali kau buka bungkusan itu” lanjut kyai Jalal. Akhirnya dengan ludah yang belum kering di muka aku meninggalkan kediaman kyai Jalal menuju rumah kyai Durrakeman

Aku memang bandel, aku telah melanggar pesan kyai Jalal untuk tak membuka bungkusan itu. Karena keingintauanku, aku membuka bungkusan itu setelah 99 langkah dari kediaman kyai Jalal. Aku buka buhul mati bungkusan itu satu persatu. Dan akhirnya…terlihat lah disitu sebuah cermin bentuk hati. Dan untuk memuaskan keingintauanku, akupun menghadapkan mukaku ke cermin itu. Dan ppyyarrrr… . . Cermin itu pecah. Aku ketakutan yang sangat luar biasa. Tapi aku pikir apapun yang terjadi dengan cermin itu aku harus menyampaikannya kepada kyai durrakeman. Setelah aku berjalan tiga hari tiga malam, akhirnya aku sampe ke rumah Kyai Durrakeman. Maklum tidak ada cara yang bisa ditempuh kecuali dengan jalan kaki untuk sampai di rumah beliau. Dengan perasaan ragu campur takut aku hendak mengetuk pintu sembari ucapkan salam. Belum sempat kulakukan niatku itu pintu sudah terbuka. Dan aku sudah disambut dengan salam oleh salah seorang cantriknya. Sang Cantrik bilang “silakan masuk mas..” “anggap aja rumah sendiri” lanjut dia. “Guru masih di kandang, angon wedus” Sang cantrik itu bicara setelah beberapa saat lalu dia pergi ke dapur untuk mengambilkanku minum. “sebentar lagi beliau juga pulang”. Dan benar adanya. Baru saja si cantrik mingkem, Kyai durakeman muncul dari balik bilik. Tanpa disuruh si cantrik pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tengah. Aku berniat memulai pembicaraan, “ini Kyai…Saya. ..”. Kyai durakeman langsung memotong “apa kamu sudah makan? itu air nya diminum” dia menunjuk gelas kayu yang sudah kosong karena airnya sudah ku sedot habis karena kehausan. Sang kyai paham dan kemudian dia memanggil si cantrik untuk mengambilkan makanan dan minuman untuk ku. Krawu kangkung dan krawu kenikir ditambah daging bebek goreng terasa sangat istimewa jika perut sedang lapar. Aku makan lahap sekali. Sementara sang kyai berkata “aku sudah tau maksud kamu datang kesini”. “Kyai Jalal emang begitu perangainya, sedikit kaku. Tak usah kau jadi takut karenanya, sebab dia sebenarnya sangat perhatian sama kamu”. Kyai durrakeman berhenti sejenak sembari mengambil kulub krawu yang ada di nampan. Aku bertanya dalam hati dan tak habis pikir bagaimana dia tau semua yang telah terjadi?. Baru saja aku berniat mengutarakan pertanyaanku kyai durrakeman berkata “ndak tahu gimana, lawong kyai jalal nelpon aku semalam, dia bilang ‘ruwaten thole sitok kuwi’”. Masih ada rasa takut pada diriku karena cermin titipan kyai jalal untuk kyai durrakeman telah pecah. dan aku yang memecahkanya. “ya sudah ndak usah dipikir, sing wes pecah yo ben pecah. sekarang kamu cari JADAH kangge merekat rekatkan kembali cerminmu itu” sekali lagi sang kyai tau semuanya. Dan akhirnya aku menginap 3 hari ditempat Kyai durrakeman untuk menempel nempel kembali cermin yang pecah itu. Setelah 3 hari cermin itu pun sudah berbentuk seperti semula meski tak lagi sempurna. Di hari ketiga aku menginap di rumah kyai durrakeman, sang kyai berkata “cerminmu sudah berbentuk seperti hati, Sekarang bawa cermin itu ke tempat Kyai DulGhani, berikan cermin itu kepadanya”. Aku pamit kepada sang kyai dan cantrik-cantrik. Dan berangkat ke tempat kyai DulGhani.

Sampailah aku di tempat Kyai DulGhani…
Aku ucapkan salam kepada Kyai DulGhani yang sedang nongkrong sambil rokok an di poskamling depan rumahnya. Tak lupa secangkir kopi panas di depannya. Ada beberapa tumpuk kartu Gaple didekatnya. Seusai aku ucapkan salam, belum sempat aku utarakan maksud kedatanganku dia langsung saja nyerocos “wah kebetulan kamu datang, aku tak ada teman buat maen Gaple”. Aku berusaha bicara “tapi ini titipan…”, dia sudah menyela lagi “sono taruh itu barang ke gudang, Aku sudah banyak barang-barang begituan”.
Aku terbengong tak mengerti tapi aku patuh terhadap perintahnya untuk menaruh titipan itu di gudang. Sekembali nya aku dari gudang, sang kyai nyerocos lagi “jadi nanti yang kalah maen gaple dihukum ‘dipukul kepalanya’.” . Aku mengangguk saja. Dan aku heran dari 33 permainan aku tak pernah menang. Akibatnya kepalaku pada sakit semua karena dipukul. Dan aku senang sekali ketika pada permainan ke 99 aku mengalahkan kyai DulGhani. Belum sempat aku mengambil hak ku untuk menghukum yang kalah maen gaple, aku suda dipukul bertubi-tubi oleh Kyai DulGhani semabari dia berkata “murid durhaka, mau memukul gurunya, wani kowe karo gurumu, ayoh nek wani….”. Dan kepalaku pun sakit karenanya. Tapi aku harus pegang aturan sami’na wa atho’na. Dan yang lebih mengherankan, sepulang aku dari ketiga kyai itu, urusanku dengan gadis impianku untuk menikah dengannya berjalan dengan mulus tak ada kendala yang berarti. Kini gadis idamanku itu telah menjadi istriku dan dia tetap menyejukkan seperti awal ketemu.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment