Friday, June 12, 2009

Surat untuk Kang Susilo dan Mas Budi

by: Galang Swatantra Ekajati


Kang Susilo dan Mas Budi yang baik,

Apa kabar kangmas berdua? Aku berharap sampeyan berdua sehat wal afiat. Aku mengirim surat kepada kangmas berdua tidak lain untuk mengobati rasa kangenku kepada kangmas berdua yang telah sekian lama di Jakarta. Dan tentu saja selain itu aku juga ingin mewartakan keadaan kami di kampong.

Kang susilo yang baik,
Sungguh kang, semenjak kangmas berdua meninggalkan aku dan si Bibit bertahun tahun yang lalu untuk pergi ke Jakarta, kami merasa sendiri. Aku harus melewati hari demi hari begitu berat. Dan Kakang tahu, setelah sepetak sawah yang kau jual untuk modal ke Jakarta mu waktu itu, kita sudah tak punya apa apa lagi. Aku sekarang ini harus menjadi buruh cuci di warung mbak Nur yang deket sekolahan SD itu. Yah, lumayan lah kang, lima ribu sehari, dan kadang kalau warung rame mbak Nur ngasih aku sepuluh ribu. Untunglah mbak Nur memberiku makan tiga kali sehari selama aku di warung, sehingga ribu atau 10 ribu itu sepenuhnya bisa kutabung. Tentu kakang tahu, dalam kondisi sulit seperti ini aku harus mengencangkan ikat pinggang. Aku masih inget dulu kakang pernah bilang bahwa nabi Muhammad itu mengganjal perutnya dengan batu untuk menahan lapar. Aku masih inget betul kata katamu itu kang.


Oya kang… si Bibit anak kita, bulan ini sudah memasuki semester 3. Kapan hari dia nelpon ke rumah lek Komari yang disana ada pesawat telponnya. Si Bibit bilang bahwa pembayaran semesteran 3 hari lagi akan ditutup. Dia juga bilang butuh uang tambahan untuk membeli kebutuhan perkuliahan supay bisa mengejar ketertinggalan katanya. Sampeyan masih inget kan, kakang pernah bilang, ”Biat bapaknya saja yang bodoh, anak-anak ku jangan”. Semoga dia jadi anak pinter dan bermanfaat.

Mas Budi yang baik,

Mas Budi juga tentu sudah tahu, dek Surti istrimu, sudah 6 bulan ini pergi luar negeri untuk jadi TKW, pembantu rumah tangga disana. Beberapa hari yang lalu suratnya tiba di kampong. Katanya, dia sengaja mengalamatkan suratnya ke kampung karena kalau dikirim ke Jakarta ke alamat mas Budi, dia takut nggak nyampe. Dia berpikir Jakarta sudah sangat padat sehingga benyak tempat disana yang tak beralamat jelas. Selain dia juga tak ingin membebani pikiran mas Budi terkait dengan berita kurang baik mengenai dirinya.

Dalam suratnya itu dia bercerita bahwa dek Surti mengerjakan pekerjaan rumah tangga majikannya hamper 20 jam seharinya. Berarti nyaris dia istirahat cuma 4 jam, itupun kalau tidak ada sesuatu yang sifatnya diluar kebiasaan. Pekerjaan dari menyapu, mengepel, sampai membersihkan water closed. Dari menyiapkan sarapan, makan siang, dan malam sampai ngemong anak majikan. Sudah itu dia pernah bilang dalam suratnya bahwa dimaki, dipukuli bahkan akan diperkosa. Aku pengen nangis membaca suratnya itu. Aku pernah bilang dalam hati kenapa gak lapot kepolisi? Gimana dia bisa lapor, orang dia gak punya dokumen lengkap ketika masuk ke sana. Mas Budi tahu kan dia gak punya cukup modal untuk masuk kesana secara legal?
Mas Budi yang baik,

Dek Surti ini sunggug baik hati, dia telah membantu ekonomi keluargamu. Meskipun ia dihina dilecehkan harga dirinya, dia masih bilang “aku tak apa apa”. Bahkan untuk bercerita keadaannya kepadamu saja dia masih memperhitungkan apakah ini akan menjadi beban pikiranmu apa tidak. Pernah juga dia bilang kangen ketika bisa kumpul kumpul bersama di kampung. Dia juga bilang kangen bakso buatanmu. Oia.. gimana jualan baksomu di Jakarta? Semoga lancer.


Sekian dulu suratku untuk kangmas berdua. Semoga apa yang kita cita-citakan akan terwujud. Amin




Salam,
Reactions:

0 comments:

Post a Comment