Sunday, July 19, 2009

Tak terjadi apa-apa di Jakarta, Tak terjadi apa-apa di Indonesia

oleh: Galang Swatantra Ekajati

Masih sangat membekas dalam ingatan ku ketika tercium asap yang menyesakkan dada pada tanggal 5 Agustus 2003 di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Ya, sebuah mobil jenis kijang meledak akibat bom sengaja diledakan si pelaku. Ledakan yang mengkibatkan Marriot ditutup 5 minggu tersebut menewaskan 12 orang dan mencederai 150 orang. Dan kemarin pagi ledakan itu terjadi lagi di sebuah kantin di lobby Hotel Marriot.

Tapi saudara saudara tak perlu khawatir, semua akan berlalu begitu saja seiring berjalannya waktu, bukan begitu? Tak perlu nunggu terlalu lama untuk melupakan kejadian yang menyedihkan seperti ini, bukan? Pagi hari terjadi ledakan bom, malamnya di Trans7, aku masih ingat benar, menggelar semacam acara bincang-bincang dengan topik peristiwa ledakan bom dengan menghadirkan artis seksi nan cantik-cantik, sambil cengengas-cengenges obrolkan tentang peristiwa menyedihkan itu. Trans 7 itu sangatlah luar biasa sebagai stasiun media elektronik, dan ku yakini hampir seluruh media elektronik (tv) di Indonesia ini mempunyai tingkat kecerdasan yang diatas rata-rata dalam hal 'menghibur' hati yang sedang sedih, bukan begitu? Saya pun masih ingat benar ketika sunami mengguncang Nanggroe Aceh Darrusslam kala itu, peristiwa yang menggemparkan dunia dengan korban puluhan jiwa bahkan ratusan jiwa itu disajikan dalam 'berita sekilas' di sela sela pergelaran akbar acara 'dangdutan', pemilihan artis-artis dadakan yang ratingnya lagi tinggi waktu itu. Itu lah kenapa ku bilang pertelevisian kita sungguh sungguh cerdas dalam hal menghiburhati hati yang sedih, bahkan mampu menyulap kesedihan menjadi lelucon yang membuat banyak orak terpingkal pingkal olehnya.

Indonesia ini sudah terbiasa dengan ketidak jelasan nilai-nilai, jangankan untuk memperjuangkan nilai-nilai, untuk mau belajar memahami saja setengah hati dan itupun sambil cengengas cengenges. Bejibun koruptor yang perutnya tambun makan uang rakyat, tak pernah jelas jluntrungannya. Panggung politik banyak diisi oleh makelar-makelar dan belantik-belantik. Apalagi sistem ekonomi, bukannya pro rakyat, bukanya pro pencerdasan kehidupan berbangsa, malah pro ketergantungan, pro utang, dan kalo bisa pendidikan pun di komersialisasikan. Sungguh luar biasa memang kita ini. Yah, kalau cuman urusan sepele layaknya ledakan bom kemaren mah, urusan gampang untuk dibuat menjadi remang-remang. Sedikit pengalihan isu, sambil mereka-reka skenario kambing hitam, ditambah gosip gosip selebriti, selesailah sudah. Dan terlupakanlah semuanya.

Yah tapi untunglah, rakyatnya, seperti wak Jo, wak Min, Mbok Nem, Yu Nah, mempunyai keluasan dan kebesaran jiwa yang luar biasa. Dibandingkan dengan rakyat negara mana pun, mereka tidak ada seujung kuku nya. Dituntut begini dituntut begitu pemerintahnya, mereka nerima saja. Mereka sendiri tak pernah menuntut haknya sebagai rakyat, mereka sudah cukup bersyukur dengan singgkong rebus secangkir kopi dan sebatang rokok untuk esok pagi. Dijadikan kambing hitam, berkali kali bahkan, karena saking luas jiwa nya maka mereka memaafkan. Mereka bahkan karena sudah terbiasa hidup bersama kesedihan, ketidak menentuan, gejolak, ketidak jelasan, mereka kini sudah mencapai tingkat ketenangan hati yang luar biasa, yang mampu menganggap peristiwa ledakan Marriot kali ini, adalah peristiwa biasa, bisa dimaklumi, dan tak perlu minta maaf mereka pasti memaafkan. BUKAN BEGITU?

***