Friday, February 26, 2010

Yunus dan Pohon Mahoni

Mungkin karena saking cerdasnya, Yunus menolak titah Tuhan nya, yakni berda'wah di kampungnya, yang sudah mengurat nadi ma'siatnya. Pemimpin korup, kejahatan yang merajalela, judi, zina, dan segala macam kema'siatan tumplek blek di kampung itu.

"Sudahlah Tuhan, habisi saja kaum yang membangkang itu, luluh lantakkan saja mereka, musnahkanlah saja, penyakit mereka sudah stadium empat, sudah akut, tak mungkn sembuh", kata Yunus waktu itu.

Karena menilai bahwa umat di kampungnya tidak mungkin sembuh, Yunus berniat 'kabur' dari titah Tuhannya itu. Ketika Tuhannya mengutusnya pulang kampung untuk berda'wah, Yunus malah memilih menaiki kapal barang yang bukan menuju kampungnya, namun ke tempat lain.

Di tengah laut kapal yang ditumpangi Yunus, digoncang oleh ombak yang sedemikian dahsyat. Seuruh awak kapal kebingungan. Gelombang air yang sangat tinggi dan besar menghampiri kapal itu bertubi-tubi, memukul sisi-sisi kapal. Tak ayal lagi, seluruh awak kapal panik. Sang nahkoda berpidato kala itu, "saudara-saudara seluruh awak kapal dan enumpang kapal, silahkan berdoa kepada Tuhan mu masing-masing, mintalah gelombang yang maha dahsyat ini segera selesai". Semua awak kapal dan penumpang kapal barang itu pun berdoa. Tapi tak kunung surut juga gelombang itu. Masih saja menghantam-hantam kapal itu.

Sang nahkoda menilik satu persatu semua ABK dan penumpang kapal itu, "Hei, Yunus dimana?. Kenapa ia tak ikut berkumpul dan berdoa?". Semua ABK dan penumpang, melongok kiri dan kanan. Tak ada Yunus disana. "Badrun, cari dimana Yunus, dan seret dia kemari", kata sang nahkoda. Yang dipanggil badrun itu pun berlari kesana kemari untuk mencari Yunus.

Tak lama kemudian, "Pak Nahkoda, ini Yunus, ku temukan ia di pojok gelagak kapal sedang tertidur pulas", badrun melapor pada sang Nahkoda. Yunus mengucek-ucek mata yang masih memerah. "Ada apa pak nahkoda", kata Yunus. "Kau ini begimana, Yunus? Yang lain pada panik dan berdoa kepada Tuhan masing-masing, malah kau tidur-tidur. Apa kau tak tahu prahara yang menimpa kita sekarang ini?", nahkoda membentak marah. "Pasti kau punya salah sama Tuhanmu?", lanjut nahkoda. Yunus mengangguk, "iya pak saya memang punya salah sama Tuhanku, aku lari dari titahNya", kata Yunus. Sang Nahkoda terheran-heran. "Hei Yunus, siapa Tuhanmu itu sehingga bisa membuat gelombang yang sedemikian dahsyat ini?", tanya sang nahkoda. "Tuhanku adalah yang menguasai langit dan bumi, yang menguasai daratan dan lautan", jawab Yunus. Semua terbengong-bengong mendengar kata-kata Yunus itu.

"Baiklah, karena engkau yang salah dan yang menyebabkan prahara ini, maka kau harus bertanggung jawab", ujar sang nahkoda. "Berdoalah kepada Tuhanmu, supa prahara ini reda", lanjut sang nahkoda. "Gelombang yang maha dahsyat ini tak akan surut hanya dengan aku berdoa", ujar Yunus, "tapi aku akan tetap bertanggung jawab atas prahara ini". "Begimana caranya?", kata sang nahkoda. "Cemplungkan saja aku ke laut, maka laut tak akan marah", kata Yunus. "Baiklah, kau sendiri yang meminta", kata nahkoda.

Maka dengan berat hati seluruh ABK mendorong Yunus dan jatuhlah ia ke dalam laut yang sedang marah itu. Tak lama setelah Yunus nyemplung dalam laut, Lautpun lambat laun reda kemarahanya. Namun didasar laut seekor ikan hiu yang sangat besar, memangsa Yunus yang sedang kelelep. Atas kehendak Tuhan, Yunus yang tertelan ikan hiu besar itu masih hidup. Berhari hari Yunus di dalam perut ikan. Tanpa makan, tanpa minum. Maka dia pun menyadari kebodohannya. "Ya Allah, aku bersaksi tak ada Tuhan kecuali Engkau yang Maha Suci. Dan aku ini adalah tergolong manusia yang dholim". Terus menerus Yunus berdzikir kepada Allah. Seluruh alam yang mendengar doa Yunus, turut serta mendoakan Yunus. Hiu besar itu pun menjadi serba salah, ketika seluruh alam mendukung Yunus dan ikut mendoakan Yunus. Tapi kemudian si hiu itu keukeuh membiarkan Yunus dalam perutnya. Si hiu berpikir ia sedang menjalankan perintah Tuhannya sampai Tuhan menyuruhnya mengeluarkan Yunus dari perutnya. Si Hiu pun menahan tekanan dari alam yang demo minta Yunus dibebaskan. Sampai hiu itu tertidur karena lelah.

Kemudian Tuhan mengutus laut untuk membawa hiu tidur itu ke pantai dekat kampung Yunus. Tak lama Hiu itu terbangun dari tidurnya. Ia bangun karena ia telas bermimpi bahwa Tuhan memberitahunya bahwa tugas nya menahan Yunus telah usai. Dan ia harus mengeluarkan Yunus dari perutnya. Hiu pun mentaati perintah Tuhannya. Dan Yunus pun keluar dari perut ikan, di pantai dekat kampungnya.

Yunus akhirnya nyerah. Dan dia pun mulai berda'wah di kampungnya. Meski pada suatu ketika ia mengatakan pada Tuhannya, "Tuhan, aku sudah mengikuti perintahmu untuk berda'wah. Tapi lihatlah kampungku itu sudah rusuh, tak mungkin lah mereka bertobat", kata Yunus. "Aku Maha Mengetahui dan akulah yang Maha Membolak balik hati".

Yunus telah menjalankan perintah da'wah. Meski dalam hati ia masih ragu, penduduk kampungnya akan bertobat. Maka ia pun memilih tinggal di pinggiran kampung, sambil mengawasi dan ingin membuktikan bahwa prediksinya benar.

Suatu malam yang sangat panas, Yunus tak bisa tidur. Dia mengeluh, "Ya Tuhan, panas sekali malam ini". Maka seketika itu juga sebuah pohon mahoni yang rindang tumbuh dan memayungi rumah nya di pinggir kampung itu. Dan ia pun mulai terlelap. Pagi nya ia mendapati pohon mahoni yang rindang memayungi rumahnya. Yunus senang sekali.

Malam berikutnya Yunus terbangun dari tidur karena tiba tiba kamar tidurnya menjadi panas kembali. Yunus melongok keluar, pohon mahoni itu kini meranggas, seluruh daunnya dimakan ulat. "Tuhan, kemana pohon mahoni yang rindang itu, ulat-ulatmu telah memakan daun-daunnya. Aku jadi kepanasan lagi, aku tak bisa tidur lagi", ujarnya. Tuhan berkata, "Aku yang menumbuhkan pohon mahoni itu dalam semalam. Dan kau tak ikut-ikut menanamnya. Kau tak ikut-ikut memeliharanya. Kalau kemudian aku suruh ulat-ulatKu untuk memakan daun-daunNya. Kenapa engkau yang marah-marah??".

لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمينَ


Tuesday, February 23, 2010

Gus Muhammad SAW -Cak Nun-

Sudah terpecah dan terkeping sampai seberapa PKB, juga NU? Tidak. Kita ambil perspektif lain. Itu bukan bentrok, bukan perpecahan. Itu romantisme demokrasi. Itu dinamika ijtihad (perjuangan pemikiran). Itu produk wajar dari tradisi berpikir merdeka: salah satu prinsip yang membuat manusia bernama manusia.

Sebagaimana kalau jumlah pemeluk Islam ada sejuta, maka dimungkinkan ada sejuta aliran, dipersilahkan setiap orang memberlakukan tafsirnya masing-masing, dan satu-satunya yang berhak menagih pertanggung-jawaban adalah Tuhan. Silahkan ada golongan NU, Muhammadiyah, Persis, Persis NU, Persis Muhammadiyah, Muhammad NU, Sunni, Syiah, Sun’ah, Syinni, PKNU, Langitan, Bumian, Lautan, Gunungan, PKB Alwiyah, PKB Wahidiyah, PKB Muhaiminiyah, PKB Yenniyah… semakin banyak semakin demokratis dan menghibur.

Tapi omong-omong sebenarnya PKB adalah satu-satunya parpol yang konstituennya paling berakar. Mungkin tidak tepat benar metaphor berikut ini: tapi ibarat hutan dan taman: PKB adalah upaya membangun hutan menjadi taman. Taman PKB berbasis di hutan yang melahirkan PKB, dengan akar dan sifat hutan yang masih kental. Golkar misalnya, adalah sebuah taman modern yang professional, sejumlah pohon diambil dari hutan dan tetap mendayagunakan kimia tanah hutan — tetapi ia sebuah taman teknokratis yang tidak memprimerkan hutan.

Semua, PDIP, PPP, PKS, PAN, PD atau PBB, juga tidak steril hutan, tetapi PKB yang paling jelas berakar di hutan. Asal muasal sosio-kulturalnya, dialektika historisnya, masih menampakkan kekentalan perhubungan antara tamannya dengan hutannya. Sebagaimana PAN, PKS, PPP dan PBB “gagal” mewujudkan jargonnya Cak Nurkhalis Madjid “Islam Yes, Partai Islam No” – PKB-lah yang paling kental setting budaya santrinya. ‘Partai Islam No’ susah keluar dan berkembang dari lembaran AD-ARTnya, de fakto tetap saja “Partai Islam”. Meskipun Ifrith Sekjen Komunitas Jin Internasional direkrut masuk PKB, tetap saja yang terjadi bukan pluralisme, orang tetap menganggap Jendral Ifrith yang masuk NU supaya kalau meninggal ditahlili.

Andaikan saja tradisi transformasi sosial berlaku cukup matang di Indonesia, kemudian atas dasar itu PKB dibangun kembali secara modern, maka dia susah ditandingi oleh kelompok politik yang manapun lainnya.

Akan tetapi PKB semakin seru saja bergumul di dalam bungkusan ’sarung’ tradisional. Mungkin saja sarung itu ber-merk ‘Gus’. Belum tentu benar, tapi kalau mau menabung pembelajaran tentang PKB hari ini ada baiknya kita tengok sosiologi budaya ‘Gus’, bahkan mungkin ‘antropologi’ nya.

Sopan santun Jawa menyebut Nabi Muhammad SAW dengan Kanjeng Nabi. Dalam bahasa Arab: Sayyid, semacam Sir. Sayyidina Muhammad.
Beliau pernah bilang “Saya jangan disayyid-sayyidkan”. Maka masyarakat Muhammadiyah cenderung tidak memakai gelar Sayyidina. Panggil ngoko saja: Muhammad. Tetapi kalau kita menyebut pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dengan “Dahlan” saja, “Si Dahlan”, atau dulu ketika beliau masih sugeng kita menyapa beliau “Mau ke mana Lan?” — teman-teman Muhammadiyah banyak tak siap juga.

Jadi idiom ‘Sayyidina’ itu mungkin berkonteks budaya sebagaimana kita memanggil “Pak”, “Mas”, “Oom”. Tentu saja “saya jangan disayyid-sayyidkan” itu tidak berhenti pada makna harafiah. Maksudnya Kanjeng Nabi kita jangan feodal, jangan menjunjung-junjung secara tidak rasional. Allah semata yang ‘Ali Akbar, yang maha tinggi dan maha agung. Sampai-sampai beliau tidak mau digambar wajahnya, khawatir jadi icon, branding, berhala, mitos.

Di kalangan Jawa tradisi, dipakai kata “Kanjeng”, “Raden” atau “Den”. Den-nya masyarakat santri adalah “Gus”. Gus itu semacam Raden yang ”islami”. Di Jombang ada Gus Rur, Gus Nur, Gus Dur. Untuk saya ada gelar VIP: “Guk”, Guk Nun. Itu panggilan sesama teman penggembala kambing, kerbau, sapi, ngasak di sawah.

Gus itu lebih tinggi dan lebih luas dibanding Den. Itu berlaku tak hanya secara tradisional. Semua wacana, persepsi dan analisis tentang wilayah perpolitikan tertentu di Indonesia selama 35 tahun ini terlalu meremehkan dahsyatnya kekuatan ‘Gus’. Sampai hari ini kita gagal ilmu, gagal obyektivitas, gagal kejujuran, gagal kerendah-hatian dan kejantanan di dalam memotret fenomena sangat factual itu dalam frame pemikiran demokrasi, egaliterianisme, independensi budaya dan politik.

Itupun kalau bicara tentang Gus Dur, NU, PKB, Muhaimin Iskandar, Yeni Wahid, PKNU, Choirul Anam, Kiai (desa pesantren bernama) Langitan dst, tanpa setting sejarah yang ‘masuk lubuk hutan’ secara cukup memadai. Gus Dur NU PKB dll hanya kita jadikan anasir-anasir dari khayalan akademik kita yang asyik sendiri dengan huruf-huruf, yang karena para akademisi dan pengamat adalah penguasa negeri wacana, maka mereka mengumumkan kepada dunia dan dirinya sendiri bahwa NU itu begini Gus Dur itu begitu — kemudian tatkala besoknya terbukti tak ada eskalasi rasional dari wacana-wacana itu, kita diam-diam melupakannya.

Mungkin kita tugasi khusus peneliti politik untuk memperhatikan hal-hal yang sederhana: kalau mau paham PKB, NU, Gus Dur: coba tengok pengetahuan tentang keluarga imigran Tebuireng, struktur dan eskalasi sejarah “klan-klan” pribumi dan pendatang di Jombang, budaya Ludruk dan Gambus Misri, Hadlratus Syaikh, Mbah Wahid, Mbah Wahab, Masyumi, Muhammadiyah, Yai Kholil Bangkalan, pisang, kitab, cincin…. ***

sumber: http://www.padhangmbulan.com/kolom-emha/gus-muhammad-saw/



Tuesday, February 2, 2010

Tak Sepadan

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Chairil Anwar
Februari 1943