Sunday, April 18, 2010

Panji 2: Bukan TANI, tapi buruh tani

Begitu hebatnya kekagumanku terhadap sosok mahasiswa. Hingga tak kurasakan aku mulai sering memimpikan menjadi seorang mahasiswa yang kubayang-kan. Aku lupa satu hal yang bisa dikatakan sangat penting dalam kehidupan nyata. Ya, kau benar, uang untuk biaya. Sementara kau tahu sendiri, aku dilahirkan dari seorang petani kecil di kampung dimana kuliah adalah suatu hal yang mewah dan mahal.
Aku masih ingat sekali ketika masih Sekolah Dasar dulu. Suatu ketika aku membawa formulir yang harus diisi mengenai apa pekerjaan orang tua. Saat itu aku mengisinya dengan TANI, seketika itu juga bapakku bilang “…tani iku yen duwe sawah dhewe, yen ora, yo berarti buruh tani…” (…disebut TANI itu jika punya sawah sendiri, kalau tidak, ya berarti BURUH TANI). Dan memang begitulah adanya, bapakku memang kesehariannya bekerja di sawah, tapi tak punya sawah sendiri, melainkan sawah orang lain. Mulai saat itu tiap kali aku disodori formulir serupa waktu SMP maupun SMK Teknologi, pekerjaan orang tua:, kutulis, BURUH TANI.
Di desaku bisa dihitung jari, yang selepas SLTU, melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Itupun tak sepenuh-nya dari mereka pulang dengan membawa ijazah, tapi pulang-pulang langsung ijab-sah. “Lihat mbak Lastri, sudah habis sapi lima dan menjual sawah tapi bukannya dapat ijazah malah hamil diluar nikah”, kata bapakku ketika ku sampaikan pada beliau bahwa selepas SMK aku berkeinginan melanjutkan kuliah. Tapi aku tahu sekali bahwa meskipun hanya tamat Sekolah Rakyat, bapakku sebenarnya sangat ingin juga menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya. Dan sudah terbukti, meski harus hidup sangat sederhana, mereka memilih untuk menyekolahkan ketiga anaknya sampai SLTU. Dan kami semua menyelesaikannya dengan gemilang. Setidaknya kami bertiga, sejak dari SD sampai SLTU, selalu men-dapat peringkat 5 besar. Sementara anak-anak seusiaku di desaku selesai SMP bahkan selepas SD banyak yang tak melanjutkan sekolah lagi. Dan saking sederhananya hidup mereka, yang akhir-akhir ini baru ku ketahui, mereka sering sarapan hanya dengan nasi dengan sambal. Karena upah bapak beberapa minggu ini harus mereka sisihkan untuk bayar SPP anak-anaknya, jika tidak, maka anak-anak mereka tidak sekolah. Sungguh istimewa semangat mereka untuk menyekolah-kan anak-anaknya, ditengah orang tua-orang tua yang lebih suka anak mereka bekerja, dapat uang, kemudian untuk membeli TV kelir atau kredit sepeda motor.
Kau tahu, kawan, berapa upah seorang buruh tani di desaku kala itu? Bapakku dan banyak buruh tani di desaku dibayar 4.500 per hari. Bisa kau bayangkan, seorang paruh baya menginjak tua, membungkuk mengayunkan cangkul, berjam-jam ditengah terik matahari? Dan sepulang dari bekerja bukan menikmati hasil jerih payahnya dengan membeli makanan yang enak misalnya, atau membeli TV supaya bisa nonton srimulat atau aneka ria safari untuk menghibur diri, tapi justru mereka sisihkan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Sedang mereka sendiri nrimo hanya dengan makan nasi dan sambal atau nasi gaplek, pun kalo ada tempe seiris dua iris mereka sisihkan buat anak-anaknya. Mereka lebih memilih jalan kaki ke sawah, sementara yang lain sudah bersepeda dan bahkan sepeda motor.
Bapakku bukan TANI, tapi BURUH TANI, apalagi TNI. Mereka berprinsip ‘bodho-bodho o yen bapake dudu anak-anake’ (biar bapaknya bodoh asal bukan anak-anaknya). Dengan upah sebesar 4.500 rupiah per hari, itupun tak menentu, hanya musim-musim tertentu saja mereka bisa bekerja, belum lagi harus bersaing dengan tenaga-tenaga muda di desaku, tentu hal itu sangatlah berat bagi mereka, untuk menghidupi kami sekeluarga. Apakah kemudian mengeluh dan atau merasa berkecil hati menghadapi kehidupan? Jawabnya adalah tidak. Keuletan dan ketekunan serta rasa tanggungjawab yang begitu luar biasa ini ku pikir tak akan pernah ada jika tanpa adanya cinta, bukan sekedar cinta terhadap keluarga, namun lebih dari itu, adalah keikhlasan mereka untuk menerima dan mencintai hidup dan kehidupan tanpa keinginan menguasainya. Karena berangkat dari sikap kepasrahan kepada yang Maha Kuasa. Apakah akan ada keluh kesah dan atau kesedihan maupun kebahagiaan yang berlebihan, dari sikap kepasrahan seperti itu? Kehidupan kami bagi sebagian orang amatlah menyedihkan, tapi kami menjalaninya dengan nikmat.
Aku yang masih muda usia, tak henti-hentinya mencoba memahami cara berfikir mereka. Bagaimana bisa mereka dan banyak orang desa seperti mereka bisa menikmati hidup yang seperti itu? Pupuk mahal, mereka tersenyum, minyak tanah naik harga, mereka tetap bertahan, esok pagi hanya makan singkong, mereka menerima. Dalam kesederhanaan dan keterbatasan, aku merasa ada yang salah, ada yang tak beres. Namun aku tak tahu pun tak mampu menjelaskan. Yang muncul justru berbagai macam tanda tanya dalam benak ku. Bagaimana mungkin tanah yang subur, kekayaan alam yang melimpah-ruah, gemah ripah loh jinawi, yang disebut Indonesia ini masih ada saja penduduknya yang makan gaplek? Sementara di Jakarta sana berdiri gedung-gedung pencakar langit, tiap hari jalanan dipadati oleh kendaraan roda empat. Bagaimana bisa terjadi orang-orang yang dekat dengan pusat pemerintahan, menjadi lebih cepat kaya, dibanding orang-orang di pelosok kampung?
Kusimpan dan kupendam rapat-rapat segala macam pertanyaan yang menimbulkan keresahan itu dan menjadi pemompa semangatku untuk menimba ilmu di Perguruan Tinggi. Akan tetapi, sungguh tak tahu malu aku ini jika masih tega menuntut mereka untuk membiayaiku kuliah ke Perguruan Tinggi. Dan aku akan tetap kuliah, bukan tahun ini, tapi tahun depan. Maka kuputuskan untuk bekerja, sembari menabung untuk kuliah tahun depan. Dan akupun memutuskan untuk bekerja menjadi TKI di Malaysia. Bukan sampai dan bekerja di Malaysia, aku dan teman-teman serombongan justru terlunta-lunta di Pontianak tanpa kejelasan nasib kerjaan kami di Malaysia. Usut punya usut, ternyata toke yang seharusnya menguruskan pekerjaan kami di Malaysia pun telah melarikan diri dengan membawa uang yang telah kami setor. Uang yang didapat emak dari utang buat modal ke Malaysia, raib sudah.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment