Sunday, April 18, 2010

Panji 8: Pintu Gerbang


Saat itu beberapa hari setelah lebaran. Aku pun pamit kepada bos angkot K40. Aku memilih mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru di Malang, setelah bos angkot tak mengijinkan aku untuk  minta narik angkot setengah hari setiap harinya, sementara setengah harinya ku buat kuliah. DIa menginginkan aku memilih dan fokus pada pilihan itu. Antara narik angkot dan kuliah. Kalau mau narik angkot, narik saja, kalau mau kuliah, fokus kuliah, katanya waktu itu. Maka hari itu aku memilih kuliah. Di Malang, karena lebih dekat dengan Kediri. Dan kupikir celenganku sudah cukup, setidaknya untuk membayar biaya awal masuk sampai tiga semester ke depan. Saat itu belum ada sebulan setelah lebaran. Sedangkan Maia, sang putri, entah kemana. Bahkan dia tak pamit atau mengatakan apa-apa padaku. Pertemuan terakhir dengannya adalah bulan ramadhan malam ke 15, saat aku bercerita dan mengungkapkan rasa suka ku padanya waktu itu. Ku pikir Maia sedang pulang kampung dan belum kembali ke Jakarta. Dia mungkin akan kembali sekalian setelah lebaran haji.
                Sekarang aku akan pulang dan entah kapan akan kembali ke Jakarta. Bodohnya aku, tak meninggalkan jejak kepada Maia. Ya, berulang-ulang kali ngobrol dengan Maia, aku tak pernah memberinya alamatku di kampung atau sebaliknya. Oh ya, dititipkan kakak Maia saja. Tapi aku tak beruntung, rumah kakak Maia beberapa hari ini tutup. Entah kemana penghuninya. Sungguh bodohnya aku. Perjalanan pulang hari itu juga harus aku lakukan. Mengingat aku harus mempersiapkan segala sesuatu keperluan mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Aku tak bisa menunggu Maia kembali ke Jakarta. Iya kalau kembali, jika tidak? Aku tak mau melewatkan kesempatan terakhirku mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru kali ini. Sungguh sedih harus meninggalkan Jakarta, terlebih tanpa meninggal-kan jejak alamat kepada Maia. Maka aku pun berangkat pulang dengan separuh hati dipenuhi penyesalan.
****
               
Di depan pintu gerbang kampus itu aku ter-mangu. Hari ini adalah ujian Seleksi Penerimaan Maha-siswa Baru. Aku mengikuti ujian ini berbekal keyakinan. Aku tak pernah ikut bimbingan belajar atau semacam-nya. Aku hanya membeli sejenis buku latihan soal untuk SPMB. Dan sekadar membuka-buka catatan mata pelajaran sewaktu aku sekolah di SMK dulu. Semuanya masih tersimpan rapi di dalam kardus. Meski sebagian telah menguning dimakan usia, namun masih terbaca. Hari ini ujian itu akan berlangsung. Aku harus berhadapan dengan ratusan bahkan mungkin ribuan fresh graduate yang tentu saja masih segar pula dalam ingatan mereka pelajaran-pelajaran yang diajarkan saat SMU. Telah ku tetapkan hati. Ku bulatkan tekad. Aku harus masuk Perguruan Tinggi ini.
Kupilih Program Studi Keguruan, karena memang sudah dari SMP, aku ingin menjadi seorang guru. Aku teringat kata-kata guru bahasa Inggris SMP ku waktu itu. Pak Bambang nama-nya. Beliau penah berkata di depan kelas ketika mengakhiri pelajaran kala itu. Beliau berkata, “…anak-anak, kalian harus jadi orang pandai. Karena mungkin lima atau sepuluh tahun lagi akan diberlakukan perdagangan bebas…dan hal itu menuntut kalian untuk mampu bersaing kualitas dengan SDM-SDM asing, jika kalian tidak mampu bersaing, maka silakan menjadi tukang sapu di negeri sendiri…”. Aku tak hanya sekadar ingat kata-kata itu, tapi juga sangat membekas dalam diriku. Maka entah mengapa sejak saat itu aku ingin jadi guru. Guru bagi ku adalah pintu gerbang segala ilmu. Dan aku pun mulai berandai-andai. Jika misalnya aku jadi guru, maka aku akan mempunyai murid paling tidak 25 murid per kelas. Dan tiap tahun sebuah sekolah mampu meluluskan kurang lebih 350 murid. Betapa aku telah mengantarkan mereka menuju kesuksesan di masa-masa yang akan datang. Setidaknya aku bisa memberi motivasi kepada mereka seperti yang dilakukan Pak Bambang kepada muridnya. Jika kata-kata Pak Bambang delapan tahun yang lalu mampu memotivasiku hingga saat ini, masa sih dari 350 murid per tahun lulusan ku kelak, tidak ada satu pun yang termotivasi sepertiku saat itu.
Ujian masuk perguruan tinggi pun telah usai. Panitia penyelengara SPMB memberitahukan bahwa pengumuman kelulusan akan dimuat di media cetak paling lambat sepuluh hari lagi. Dan aku pun menunggu pengumuman itu dengan harap-harap cemas. Aku mulai sering bengong. Lulus enggak ya, lulus enggak ya. Aku amat sangat mengharapkan aku bisa lulus. Sementara kecemasan dan keraguan ku pada diri sendiri hampir setiap saat mengiringi harapanku itu. Maka setiap kali keraguan itu datang aku mengucap lafadz Lahaula walaquwwata ila billahil aliyil adzim. Terus berulang-ulang ribuan kali. Akankah Tuhan mengabulkan keingin-an anak seorang buruh tani, sekaligus seorang sopir angkot yang berangan-angan menjadi mahasiswa? Mahasiswa yang mempunyai kualitas khalifah fil ardh, seperti yang kubayangkan? Manusia mahasiswa yang memahami maksud Tuhan menciptakannya? Entahlah. Aku kembalikan semuanya kepada Tuhan saja. Lahaula walaquwwata ila billahil aliyil adzim.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment