Thursday, April 29, 2010

Sunan Kalijaga

1. Nama dan Asal-Usul

Pada waktu muda Sunan Kalijaga bernama Raden Said atau Jaka Said. Kemudian ia disebut juga dengan nama Syekh Malaya, Lokajaya, Raden Abdurraman dan Pangeran Tuban.1 Di dalam Babad Tanah Jawi disebut bahwa Raden Said adalah putra Tumenggung Wilatikta, Adipati Tuban. Sedangkan Arya Wilatikta, ayah Sunan Kalijaga, menurut Babad Tuban, adalah putra Arya Teja. Disebutkan pula bahwa Arya Teja bukanlah seorang pribumi jawa. Ia berasal dari kalangan masyarakat Arab dan merupakan seorang ulama. Ia berhasil mengislamkan Raja Tuban, Arya Dikara, dan memperoleh seorang putrinya. Dengan jalan ini ia akhirnya berhasil menjadi kepala negara Tuban, menggunakan kedudukan mertuanya. Akan tetapi Babad Tuban tidak menjelaskan mengenai asal-usul Arya Wilatikta, ayahanda Sunan Kalijaga itu.2

Dalam Babad Cerbon naskah Nr. 36 koleksi Brandes, dijumpai keterangan bahwa ayahanda Sunan Kalijaga bernama Arya Sidik, dijuluki “Arya ing Tuban” Arya Sadik dipastikan merupakan perubahan dari nama Arya Sidik, dan nama ini merupakan nama asli dari ayahanda Sunan Kalijaga, yang menurut Babad Tuban bukan seorang pribumi jawa, melainkan berasal dari kalangan masyarakat Arab dan merupakan seorang ulama.3

Tahun kelahiran serta wafat Sunan Kalijaga belum dapat dipastikan, hanya diperkirakan ia mencapai usia lanjut. Diperkirakan ia lahir ą 1450 M berdasarkan atas suatu sumber yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga kawin dengan putri Sunan Ampel pada usia ą20 tahun, yakni tahun 1470. Sedangkan Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 dan mempunyai anak wanita yang dikawini oleh Sunan Kalijaga itu pada waktu ia berusia 50 tahun.

Masa hidupnya mengalami 3 masa pemerintahan, yaitu masa akhir Majapahit, zaman Kasultanna Demak dan Kasultanan Pajang. Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1478 M, kemudian disusul Kasultanan Demak berdiri pada tahun 1481-1546 M, dan disusul pula Kasultanan Pajang yang diperkirakan berakhir pada t ahun 1568 M. diperkirakan, pada tahun 1580 M Sunan Kalijaga wafat. Hal ini dapat dihubungkan dengan gelar kepala Perdikan Kadilangu semula adalah Sunan Hadi, tetapi pada Mas Jolang di Mataram (1601-1603), gelar itu diganti dengan sebutan Panembahan Hadi. Dengan demikian, Sunan Kalijaga sudah diganti putranya sebagai Kepala Perdikan Kadilangu sebelum zaman mas Jolang yaitu sejak berdirinya kesultanan Mataram pemerintahan Panembahan Senopati atau Sutawijaya (1675-1601).4 Dan pada awal pemerintahan Mataram, menurut Babad Tanah Jawi versi Meisma, dinyatakan Sunan Kalijaga pernah datang ke tempat kediaman Panembahan Senopati di Mataram memberikan saran bagaimana cara membangun kota.

Dengan demikian, Sunan Kalijaga diperkirakan hidupnya lebih dari 100 tahun lamanya yakni sejak pertengahan abad ke-15sampai dengan akhir abad 16.

Tentang asal-usul keturunannya, ada beberapa pendapat, ada yang menyatakan keturunan arab asli, yang lain menyatakan keturunan Cina, dan ada pula yang menyatakan keturunan Jawa asli. Masing-msing pendapat mempunyai sumber yang berbeda.

Dalam buku “De Handramaut et les Colonies Arabes dan'l Archipel Indian” Karya Mr. C.L.N. Van den Berg, Sunan Kalijaga disebutkan sebagai keturunan Arab asli. Bahkan di dalam buku tersebut tidak hanya Sunan Kalijaga saja yang dinyatakan sebagai keturunan Arab, tetapi juga semua Wali di Jawa.

Menurut buku tersebut, silsilah Sunan Kalijaga adalah sebagai berikut: Abdul Muthalib (nenek moyang Muhammad saw) berputra Abbas, berputra Abdul Wakhid, berputra Mudzakir, berputra Abdullah, berputra Kharmia, berputra Mubarrak, berputra Abdullah, berputra Madhra'uf, berputra Arifin, berputra Hasanudin, berputra Jamal, berputra Akhmad, berputra Abdullah, berputra Abbas, berputra Kouramas, berputra Abdur rakhim (Aria Teja, Bupati Tuban) berputra Teja Laku (Bupati Majapahit), berptra Lembu Kusuma (Bupati Tuban), berputra Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban), berputra Raden Mas Said (Sunann Kalijaga).5

Kemudian pendapat yang menyatakan Sunan Kalijaga sebagia keturunan Cina di dasarkan atas buku “Kumpulan Cerita Lama dari kota Wali (Demak)” yang ditulis oleh S. Sunan Kalijaga sewaktu kecil bernama Said. Dia adalah keturunan seorang cina bernama Oei Tiktoo yang mempunyai putra bernama Wiratikta (Bupati Tuban). Bupati Wiratikta ini mempunyai anak laki-laki bernama Oei Sam Ik, dan terakhir di panggil Said.6

Sedangkan pendapat yang menyatakan Sunan Kalijaga berdarah jawa asli, didasarkan atas sumber keterangan yang berasal dari keturunan Sunan Kalijaga sendiri. Silsilah menurut pendapat ketiga ini menyatakan bahwa moyang “Kalijaga adalah salah seorang panglima Raden Wijaya, raja pertama majapahit, yakni Ronggolawe yang kemudian diangkat menjadi Bupati Tuban. Seterusnya adipati Ronggolawe (Bupati Tuban), berputra Aria Teja I (bupati Tuban) berputra Aria Teja II (Bupati Tuban), berputra Aria Teja III (Bupati Tuban), berputra Raden Tumenggung Wilwatikta (Bupati Tuban), berputra Raden Mas Said (Sunan Klijaga). Menurut keterangan berdasar bukti yang ada pada makam, Aria Teja I dan II masih memeluk agama Syiwa, sedangkan Aria Teja III sudah memeluk Islam.7

Terhadap pendapat-pendapat tersebut, terdapat sanggahan-sanggahan, terutama terhadap endapat yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga, dan juga para wali yang lain, adalah keturunan cina. Di antara para ahli yang menyatakan bahwa pendapat itu tidak benar adalah Prof. D.W.J. Drewes. Beliau adalah bekas guru Besar Sastra Arab di Fakultas der Aleteren pada Universitas Leiden dan berkas ketua Oosters Genooschap di Nederland, lahir pada tahun 1899 pernah memimpin balai pustaka (1930) di Jakarta danmenjadi guru besar Hukum Islam di Indonesia, dan sampai tahun 1970 beliau menjadi Guru Besar di Universitas Leiden, Nederland. Tanggapannya terhadap Prof. Dr. Slamet Mulyono yang menyatakan bahwa para wali adalah keturunan bahwa para wali adalah keturunan Cina adalah tidak benar, karena tidak mempunyai bukti. Sumber-sumber yang diambil yakni dari Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Kronik Cina dari Klenteng Semarang dan Talang, semua sumber itu tidak pernah dipeakai oleh padra sarjana sejarah. Sementara, sumber dari Reseden Poortman sudah lewat tangan ketiga.8

Kemudian Prof. Dr. Tujimah, Guru Besar dalam Bahasa Arab dan Sejarah Islam di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, juga tidak sependapat atas kesimpulan yang mengatakan bahwa para wali adalah keturunan Cina. Beberapa alasan yang dikemukakan adalah:

1. Sumber-sumber dari kesimpulan itu dari Babad Tanah Jawi, Serta Kanda, Kronik Cinta Semarang dan Talang yang belum banyak dipakai sarjana.
2. Prof. Slamet Mulyana mendapat sumber dari tangan ketiga (dua orang) yaitu lewat Residen Poortman dan Ir. Parlindungan.
3. Sumber-sumber babad itu penuh dengan dongeng dan legenda.
4. Sumber-sumber Portugis yang ada digunakan
5. Lebih memberatkan dan menerima 100% sumber Cina, atau membesar-besarkan pengaruh Cina.
6. Mungkin ada nama-nama pribumi asli yang dibaca atau ditulis menurut Lidah Cina. Pengaruh setiap bahasa dan lidah sesuatu bangsa lain memungkinkan terjadi penyesuaian ejaan, seperti khabar menjadi kabar (bahasa Arab), lebih-lebih pendatang baru bangsa Cina yang disebut tokelja, sabar menjadi sabal, dan sebagainya. Akhirnya terjadilah seperti yang dikira, terdapat nama-nama yang berubah dari nama asalnya, seperti di dalam naskah Poortman, Kertabumi menjadi King ta Bu Mi, Su Hi Ta menjadi Su King Ta, Trenggana menjadi Tung Ka Lo, Mukmin (putra Trenggana) menjadi Muk Ming, Sunan Bonang menjadi Be Nang, Ki Ageng Gribig menjadi Na Pao Cing, Aceh menjadi Ta Cih, Bintoro menjadi Bing To Lo, Bangil menjadi Jiaotung, Majakerta menjadi Jangki, Palembang menjadi Ku Kang, Sultan tayyib menjadi Too Yat, dan sebagainya. Ternyata banyak nama-nama Indonesia yang diberi nama dengan bahasa Tionghoa.

Salah satu kelemahan, antara lain ialah Sunan Gunung Jati diidentifikasikan dengan Toh A Bo, dalam bukunya Prof. Slamet Mulyana hal. 219. tetapi pada halaman 220 dikatakan bahwa Tung Ka Lo (trengganda mempunyai dua orang putra, yaitu muk Ming (Pangeran Mukin atau Pangeran Prawoto) dan putra kedua pangeran A Bo dinyatakan dalam Babat Tanah Jawi bahwa dia menjadi Bupati Madiun. Jika Panglima Perang Demak pada tahun 1526, yang berhasil membawa kemenganna sama dengan Panglima Perang yang dikirim ke Majapahit apda tahun 1527, maka Panglima Perang yang memimpin armada Demak ke Cirebon dan ke Sunda Kelapa adalah Toh A Bo Putra Tung Ka Lo sendiri. Dengan demikian, maka Toh A Bo identik dengan Fatahillah. Demikianlah tulis Prof. Dr. Slamet Mulyana. Tetapi pada halaman 224 Prof. Slamet Mulyana menulis lagi bahwa Fatahillah sebagai Sultan Banten / Cirebon dan Ipar sulatan Trenggana, dan pula menjadi Sultan Cirebon / Banten. Inilah kejanggalannya, bahwa Fatahillah disamakan dengan Toh A Bo, yang menjadi putra Sultan Trenggana dan sekali itu juga menjadi ipar Sultan Trenggana. Juga menjadi Bupati Madiun dan juga menjadi Sultan Cirebon / Banten. Apakah bisa? Aneh bukan, satu oknum menjadi putra dan sekaligus menjadi ipar Sultan Trenggana, jug amenjadi Bupati Madiun dan juga menjadi Sultan Cirebon / Banten.9

Dengan adanya beberapa pendapat tentang silsilah itu, maka bagaimanapun juga tampak bahwa masih terdapat ketidakjelasan tentang silsilah Sunan Kalijaga. Tampak pula bahwa terdapat maksud-maksud tertentu dari penyusunan silsilah. Hal itu sebagaimana pengungkapan tentang silsilah raja-raja jawa dalam Babad Tanah jawi yang menyatakan bahwa silsilah tokoh Senopati, raja Islam Mataram II, putra Ki Gede Pemanahan. Bahwa Ki Gede Pemanahan adalah keturunan langsung ratu-ratu Majapahit, kerjaan hindu yang dipuji orang jawa. Ia adalah Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela putra Ki Ageng Getas Pendawa, Selanjutnay ia putra Bondan Kejawen (Lembut Peteng), dan Bondan Kejawen ini mempunyai dua saudara lagi yakni Arya Damar (Bupati Palembang yang masuk Islam) dan terakhir adalah raden Patah, Mereka bertiga adalah putra Hayam Wuruk, Putra Raden Sesusuh, putra Kuda Lalean, putra Raden Panji (Hikayat Panji Semarang dan Galuh Candrakirana). Raden Panji Putra Getayu, putra Prabu Jayabaya, keturunan Parikesit putra Abimanyu, putra Aejuna, putra Barahmana, putra Bhatara Guru, ptra Sang Hyang Tunggal, putra Sang Hyang Wening, yang berasal dari Sang Hyang Nur Cahya. Dengan demikian maka Senopati dihubungkan dengan dewa-dew dan cerita wayang. Tampak bahwa dari penyusun silsilah Sunan Kalijaga yang berbeda-beda terdapat kemungkinan adanya maksud-maksud tertentu.

Tentang asal-usul nama Kalijaga, terdapat pula perbedaan penafsiran, satu pendapat menyatakan bahwa Kalijaga berasal dari kataJaga Kali (bahasa jawa). Pendapat lain mengatakan bahwa kalijaga berasal dari kata Arab, Wodli Dzakka (penghulu suci), dan pendapat yang lain lagi menyatakan Kalijaga berasal dari nama dusun Kalijaga yang terletak di daerah Cirebon.

Penafsiran yang pertama mengacu kepada nama jawa asli bahwa Kalijaga artinya menjaga kali, dari asal kata kali yang berarti sungai dan kata Jaga yang b berarti menjaga. Boleh jadi tafsiran ini didasarkan atas suatu riwayatnya sebagaimana dinyatakan dalam Babad Tanah Jawi bahwa beliau pernah berkhalwat setiap malam di sebuah sungai yang berada di tengah hutan yang sepi, seakan beliau menjaga kali itu. Secara kebetulan hutan itu bernama Kalijaga di daerah Cirebon.

Tetapi terdapat suatu penafsiran pula bahwa menjaga kali diartikan sebagai kemampuan Sunan Kalijaga dalam menjaga aliran atau kepercayaan yang hidup di dalam masyarakat. Beliau tidak menunjuk sikap anti pati terhadap semua aliran atau kepercayaan yang tidak sesuai dengan islam, tetapi dengan penuh kebijaksanaan aliran-aliran kepercayaan yang hidup di dalam masyarakat itu dihadapi atau digauli dengan sikap penuh toleransi. Konon, menurut cerita, memang Sunan Kalijaga adalah satu-satunya wali yang faham dan mendalami segala pergerakan dan aliran atau agama yang hidup di kalangan rakyat.

Dalam suatu sumber di dapatkan tentang asal-usul perkataan kaljaga yang berasal dari perkataan jagakali termasuk juga bagaimana Raden Said mendapatkan julukan yekh Malaya”.10 Keterangan ini dijumpai dalam Babad Dipanegara, sebuah naskah sejarah yang ditulis oleh Pangeran Dipanegara di tempat pengasingannya di Menado. Menurut penuturan Pangeran Dipanegara, waktu Sunan Bonang teringat ihwal Raden Sahid yang tealh dpendamnay, Sunan Bonang ingin mengeluarkannya. Sunan Bonang segera pergi ke temapt Raden Sahid dipendam, sembari membawa sahabatnya. Raden Sahid dikeluarkan dari pendamnanya, raden Sahid telah menjadi mayat. Sekalipun demikian sudah menjadi kehendak Tuhan tubuh jasmaninya masih dalam keadaan utuh, tidak membusuk. Hanya tinggal tulang dan kulit. Mayat Raden Sahid dibawa ke Ngampel Gading.

Mayat raden sahid dikembalikan kekuatannya. Sunan giri telah dapat dan ikut mengerjakannya. Semua wali ikut mengembalikan kekuatan Raden Sahid. Tuhan pun memberikan pertolongan-Nya. Penglihatan Raden Sahid muncul lagi, kemudian nafasnya, setelah itu detak jantungnya. Ayah dan ibu raden Sahid telah datang, demikian juga adik Raden Sahid, Dewi Rasawulan, telah sengaja datang dari hutan langsung menuju Ngampel Gading. Bersama waktu datangnya ayah dan ibunya, nafas yang keluar dari tubuh raden sahid semakin besar, para wali berdoa, lalu datanglah kembali semua kekuatan Raden Sahid. Raden Sahid telah siuman, bagai tealh lama tidur. Raden Sahid duduk dikitari para wali, Raden Sahid sadar, kemudian bersembah sujud kepada semua wali dan ayahnya, sedangkan Dewi raswulan bersembah sujud kepadanya. Bagaikan mimpi saja, semuanya telah menakjubkan semua orang yang pada susah hati melihatnya, sangat ajaib, sangat mengesankan.

Semua kekuatan Raden Sahid tealh kembai seperti sediakala, hanay tinggal rasa lesu saja. Kata Sunan Makdum: “Anak-anakku semua, patuhilah kata-kataku ini. Aku akan menjuluki si Sahid “Syekh Malaya”. Disamping itu, Sunan Makdum Berkata lagi “Mumpung lengkap semua, Wilatikta anakku, aku akan mengambil kedua anakmu. Syekh Malaya akan kukawinkan dengan putriku yang bungsu, sedang Nini Rasawulan akan kukawinkan dengan ananda di Giri.” Keduannya kemudian dikawinkan, disaksikan semua wali.

Para wali kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, sementara Syekh Malaya belum merasa puas hatinya. Beliau minta diri kepada adiknya, ingin pergi berkelana. Lalu pergi meninggalkan Ngampel Gading, menyusuri daerah Pengisikan, berhenti bertapa mati raga di pinggir kali dengan bersandar pda pohon jati yang telah mati, yang batangya condong ke kali itu. Demikian lama Syekh Malaya bertapa mati raga, hingga pohon jati yang semula mati telah hidup kembali berimbun daun.

Alkisah, waktu itu Kanjeng Sunan Bonang berkelana, beliau telah sampai di pohon jatiitu. Beliau melihat ada orang bertapa mati raga dengan bersandar pada pohon jati tersebut. Lama-kelamaan Kanjeng Sunan Bonang tidak lupa lagi, orang itu tidak lain adalah adiknya sendiri. Kanjeng Sunan Bonang segera duduk mendekatinya. Syekh Malaya waktu itu sedang tidur, dibangunkan olehnya. “Bangunlah adikku,” katanya. Syekh Malaya terkejut melihat kedatangan kakaknya, lalu mencium kaki bersembah bakti. “Sudahlah, duduklah adinda. Sekarang namamu kuberi tambahan, yakni Jagakali, Sunan Kalijaga. Demikianlah namamu yang patut. Disamping itu, bertempat tinggallah dan dirikanlah pedesaan ditempat ini. Aku yang akan membantumu, sedang istrimu akan kuundang”. Sunan Kalijaga. Tidak menolak perintah kakaknya.

Kanjeng Sunan Bonang mengirim utusan ke Ngampel memanggil adiknya sembari mohon izin kepada ayahnya. Tidak diceritakan, istri Sunan Kalijaga telah datang, sedang desa tempat Sunan Kalijaga juga telah siap, dibuatkan oleh Sunan Gunung Jati. Sunan Bonang lalu kembali ke tempat tinggalnya.

Telah lama bertempat tinggal di desa itu Sunan Kalijaga mempunyai seorang putra yang roman mukanya tidak berbeda dengan ayahnya, bernama kanjeng Sinuhun Adi.

Penafsiran kedua mengacu kepada nama Arab bawa kalijaga berasal dari bahasa Arab yang telah berubah menurut pengucapan lidah orang jawa, yaitu Qadli Zakkah yang berarti hakim suci atau penghulu sici. Nama itu merupakan nama sanjungan yang diberikan pagnera Modang, Adipati Cirebon, tatkala mereka berdiskusi tentang masalah hukum Islam di Cirebon. Dari kata sanjungan Qadli Zakka itulah kemudian desa tempat tinggal Penghulu Suci itu dikenal dengansebutan Kalijaga, Nama yang masih melekat pada suatu desa di daerah kabupaten Cirebon hingga sekarang.11

Lain lagi dengan pendapat ketiga yang menyatakan bahwa nama kalijaga berasal dari nama desa tempat tinggal yang pernah didiami oelh Raden Sahid. Pendapat ketiga cenderung menyanggah kedua pendapat terdahulu itu. Prof. Dr. Hoesein Djajaningrat menyatakan, kisah legendaries menetapnya Sunan Kalijaga di sebuah ssungai merupakan sebuah ikhtisar yang kaku untuk menerangkan si muasal nama Sunan Kalijaga. Prof. Hoesein Djajaningrat mengingatkan, dalam masalah ini orang telah memberikan artian nama kalijaga dengan “Penjaga Kali” atau “penjaga di kali”, akan tetapi orang lupa, bahwa dengan demikian orang mendapatkan susunan (perkataan) yang tidak bercorak jawa. Oleh karena menurut logat bahasa jawa “penjaga kali” toh disebut “(wong) jaga Kali”. Menurut pendapatnya, asal-muasal nama kalijaga justru tidak bisa di pulangkan pada Sunan Kalijaga, artinya tidak bisa dinyatakan bahwa nama itu telah muncul oleh karena pada awal mulanya Sunan Kalijaga telah berjaga, bertapa atau menetap di dekat kali. Tetapi sebaliknya, nama Sunan Kalijaga justru lahir karena yang bersangkutan telah menetap di desa kalijaga. Dengan demikian sebelum Sunan Kalijaga datang desa itu telah bernama kalijaga.12

Pendapat yang sama dipegangi juga oleh G.P.H. Hadiwidjaja, yang ditulis dalam brosurnya berjudul Kalijaga, sebuah tulisan yang disampaikan dalam tulisan ceramahnya di Radya Pustaka, Solo, tanggal 7 Mei 1956. dalil yang dipakai bukan nama desa yang mengikuti nama wali itu, tetapi telah dikenal sebelumnya. Dan nama desa yang dimaksud adalah desa kalijaga yang telah dikenal sebelumnya. Dan nama desa yang dimaksud Cirebon. Dalam tulisannya itu ia sekaligus menunjukkan kesalahan kedua pendapat di atas. Dasar pendapatnya adalah sebuah kidungan yang pernah didengarnya pada zaman sebelum perang di daerah Pasundan, yang berbunyi:13


Sing sapa reke bisa nglakoni,

Amutih lawan anawaha,

Patang puluh dina wawe

Lan tangi wegtu subuh,

Lan den sabar sakuring ati

Ing sa-Allah tinekan,

Sakarsanireku,

Tumrap sanak rajatinira

Saking sawabe ngelmu pangiket kami,

Duk aneng kalijaga.

Artinya:

Barangsiapa bisa menjalani

Melakukan mutih dan minum air tawar

Empat puluh hari saja,

Dan bangun waktu subuh,

Dan sabar berhati sukur,

Kepada Tuhan terlaksanalah

Sekehendakmu,

Pada saudara keluargamu,

Dari sawab ngelmu yang kami ikat, waktu berada di Kalijaga.

Dari kidung itu K.G.P.H. hadiwidjaja berpendapat bahwa yang membuat kidungan itu adalah Sunan Kalijaga sendiri, sebagaimana disebutkan “duk aneng Klaijaga” - “Waktu berada di kalijaga”. Dia menunjukkan serangkaian bukti bahwa kalijaga sebenarnya bukan nama orang, melainkan nama desa di kawasan Cirebon sebagai berikut:14

1. Pokok isi naskah sejarah Banten yang termuat dalam disertasinya Prof D.R.R.A Hoesein Djajaningrat yang berjudul Critiche Beschouwingen Van De Sadjarah Banten yang menyatakan, raden Said lalu pergi berkelana sampai ke Palembang, bertemu dengan Dara Petak. Kemudian mereka bersama pergi ke Pulau Upih, berguru kepada Syekh Sutabris. Setelah selesai disuruh pulang kembali ke tanah Jawa bertempat tinggal membuat pedukuhan di Cirebon di dekat Sungai kecil, sembari berjualan atap ilallang agar mereka diketahui oleh yang empun negeri. Di berlakng hari pedukuhan tersebut disebut kalijaga.
2. Kitab Wali Sepuluh Karangan Kargosudjono, diterbitkan Tan Koen Swie tahun 1950, menyatakan: “Tuan Sunan Kalijaga dulu keratonnya adalah di tanah Puserbumi (Cirebon).” Nama Keratonnya tidak disebutkan, tetapi letaknya ada di Cirebon, sama dengan disebut pada nomor satu di atas. Hanya saja, mengenai disebutnya Puserbumi, K.G.P.H. Hadiwijaya baru mengetahuinya. Menurutnya, yang disebut Puserbumi itu adalah Mekkah, yang karena Multasyam-nya, matahari tidak pernah mengunggulinya. Ada pun pusarnya tanah jawa adalah gunung tidar di Magelang.
3. Kidungan Musium dalam bentuk cetakan dan kidungan milik K.G.P.H. Hadiwijaya sendiri dalam bentuk naskah, menyebutkan:

“….Saking sawabe ngelmu pengiket kami, du aneng kalijaga”.

Artinya:

“….Dari sawah ngelmu ikatan kami, waktu di kalijaga.”

4. Serat Syeh Malaja, koleksi musium Sana Pusaka, milik K.G.P.H. Hadiwijaya sendiri dalam bentuk naskah:
1. Pupuh Asmarandana pada 4:

Anulnya kinen angasih,

Pitekur ing kalijaga,

Mila karan kakasihe…….


Artinya:

Lalu disuruh pindah bertafakur di Kalijaga oleh karena itu namanya disebut ……….

Di sini jelas nyata bahawa kalijaga bukan nama orang tetapi nama desa. Sedang yang menyuruh pindah adalah Sunan Bonang, setelah Kalijaga diberi wejangan.

2. Bersamaan Pupuhnya pada 12:

“Wus telas denya wawarti,

ajeng Sunan Bonang samna,

jangkar sing kalijagane”

artinya:

“Telah selesai memberikan keterangan,

Kanjeng Sunan Bonang waktu itu,

Berangkat dari Kalijagane….”

5. Serat Walisanga, Milik K.G.P.H. Hidiwijaya pupuh pucung pada 29:

“inggalipun,

wus raharjo ponang dukuh,

katah kang awismo.

Pradesane wus sawasri,

Sinung aran padukuhan kalijaga.”

Kemudian menceritakan kembalinya dari samudra diwejang kanjeng nabi Kidir, Tembang Gambuh pada 33:

Umpami sekar kuncup,

Mangke samun mangsane cumucup,

Ngambar-ambar gandane kastri jati,

Ing wasana lajang kondur,

Tan wangsul maring Cirebon.”

Artinya:

“bagaikan bunga yang kuncup,

sekarang telah waktunya mekar,

semerbak harumnya kasturi tulen,

akhirnya lalu pulang,

tidak kembali ke Cirebon.”

Pada 34:

“Mring padukuhanipun,

Kalijaga pun Lumajang misuwur…”

Artinya:

“Ke Pedukuhannya,

Kalijaga yang lalu termasyur…”

Pada 35:

“She Malaya kasetbut,

papan saking padamelanipun,

nengsih Sunan Kalijaga Wewangi…”

Artinya:

“Syekh Malaya tersebut,

dari sebab pekerjaannya,

nengsih Sunan Kalijaga mewangi…

Menurut K.G.P.H. Hadiwijaya, dengan bukti-bukti tersebut jelas bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga tersebut berasal dari nama desa, yakni desa Kalijaga di kawasan Cirebon.

Tentang penolakan K.G.P.H. Hadiwijaya terhadap perkataan “Qadli Zakka” yang berarti penghulu suci, bahwa tidak mungkin ada desa yang bernama penghulu agung suci, seperti halnya pengulon yang berarti tempat kediaman penghulu; Modinan yang berarti tempat kediaman Modin; Kauman yang berarti tempat kediaman kaum dan lain sebagainya. Demikian jug a perkataan “kali” tidaklah bisa dikatakan begitu saja berasal dari Arab, sebab nama desa yang memakai perkataan “Kali”, misalnya Kalijanes, Kaliwingka, Kaliyasa, Kalisara, Kaliwungu dan lain sebagainya.15

K.G.P.H. Hadiwijaya juga merujuk nama-nama Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Ngudung, Syekh Lemah Abang, Semua itu adalah nama-nama yang diberikan berdasarkan tempat tinggal dan tidak diberikan dari asl perkataan Arabnya, sehingga, oleh karenanya, kata “Kalijaga” menurutnya merupakan “tembung jaawa klutuk”, perkataan Jawa Asli. Penyebutakn kalijaga sebagai berasal dari perkataan Arab “Qadl Zakkah” merupakan perbuatan orang jawa sendiri secara paksa. Hal yang sama dikemukakan juga oleh K.G.P.H. Hadiwijaya berkenaan dengan nama-nama wayang, Petruk Berasal dari Fatruq, Janaka berasal dari Zinaka, Narada berasal dari nurhuda dan sebagainya.16

Berbeda dengan pendapat Ki M.A Machfoed, dia juga tampak kurang sependapat tentang asal-usul nama Kalijaga yang dihubungkan dengan perilaku bertapa di kali laksana orang “Jaga Kali” yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga sebagaiaman dituturkan dalam Sejarah Kadilangu. Dia lebih cenderung memegangi apa yang dituturkan dalam babad demak versi Cirebon, bahwa nama kalijaga berasal dari bahasa Arab “Qadli Zakkah” yang berarti penghulu suci, sebgaiman telah dikemukakan terdahulu. Dengan demikian , Ki M.A. Machfoed berpendapat bahwa kalijaga dapat lebih dipegangi sebagai nama orang, bukan nama desa yang semula bernama kalijaga sehingga nama itu menjadi sebutan bagi wali tersebut. Dia beranalog sama halnya dengan nama K.G.P.H. Hadiwijaya bukanlah nama yang diberikan karena bel;iau itu bertempat tinggal di kampung Hadiwijaya, karena menurut pengakuran beliau, nama Hadiwiaya adalah nama pemberian ayahandanya yakni Sri Susuhunan Paku Buana X.

Tentang nama Raden Said atau Jaka Said sebagai nama Sunan Klaijaga pada waktu mdua adlah nama pemberian Sunana Ampel Denta. Kata Said (Sa'id) yang berasal dari bahasa arab berarti bahagia. Sunan Ampel sendiri mempunyai hubungan dekat dengan ayahanda raden Said, dan setiap saat bersilaturrahmi di istana adipati Tuban itu, berdiskusi tentang masalah-masalah keagamaan.

Sejalan dengan arti sa'id, bahagia, maka Sunan Kalijaga dikenal juga dengan nama Lokajaya.17 Hanya saja sebutan Lokajaya lebih mengacu kepadea bahasa jawa, yang terdiri dari dua kata loka artinya tempat dan jaya berarti bahagia, menang. Menurut Pustaka Daerah Agung, nama baru itu adalah pemberian Syekh Sutam, tetapi tanpa penjelasan siapa Syekh Sutam itu. Dalam Babad Demak, nama Syekh Sutam juga tidak dikenal, kendatipun nama lokajaya disebut-sebut tatkala mengenalkan Raden Said sebagai pelayan, kemudian sebagai pengadu ayam, dan kemudian sebagai penyamun. Perannya sebagai pelayan dimulai setelah pergi meninggalkan kadipaten ketika semua uang emas berkalnya lenyap, entah dicuri orang dalam rumah penginapan, entah jatuh diperjalanan. Dalam Babad Demak versi Matara disebutkan bahwa bekal emas Raden Said habis karena diperjudikan. Tetapi lain halnya apa yang disebut oleh Babad Demak versi Cirebon, emas bekal calon wali itu habis karena telah dihadiahkan kepada anak gembala kerbau sebagai tanda terima kasih atas doa anak gembala itu dalam bentuk nama lokajaya.

Dalam perantauannya Lokajaya sampai lah pada suatu hari disebuah desa yang diantara penghuninya ada seorang janda tua beranak banyak, dan mata pencahariannya sebagai pedagang serabi, semacam kue apem. Meskipun hasil perdagangan itu sudah tidak mencukupi keperluan hidup hariannya bersama lima orang anak-anaknya yang belum ada satupun yang dewasa, namun janda tua yang berwatak murah hati itu ternyata suka menerima Lokajaya sebgai seorang penumpang hidup padanya. Mengerti betapa pemarah dan baik hati orang yang ditumpangi hidupnya itu, maka Lokajaya dengan setia dan jujur melayani pedagang serabi, memasak, memikul barang-barang keperluan memasak dan menjual serabi ke pasar, memikul barang-barang itu dari pasar pulang kembali ke rumah. Dan disadari oelh wanita janda tua itu, betapa pesat kemajuan dagangannya yang tampak sudahmenjadi besar dan tidak lagi miskin, sejak lokajaya menumpang hidup sebagai pelayan padanya. Maka lokajaya amatlah disayangi dan diperlakukan sebgai anak kandungnya. Uang pun diberikan secukupnya pada sembarang waktu diperlukan, termasuk juga untuk membeli seekor ayam aduan dan untuk bertaruh di kala ayam itu dibawa lokajaya ke dalam gelanggang peraudan ayam.

Ayam aduan Lokajaya itu diberi nama Ganden dan kenyataannya tak terkalahkan. Setiap kali Ganden keluar dari gelanggang, tetaplah senantiasa sebgai pemenang. Semua taruhan kemengangannya yang tak sedikit jumlahnya selalu Lokajaya berikan kepada janda tua, itu akuannya itu.

Apda suatu hari, rumah pedagang serabi tersebut dikunjungi seorang setengah baya berserta anak muda yang membawa sebuah krusu berisi seekor ayam aduan. Mereka datang perlu menantang Lokajaya mengadu ayamnya yang bernama Tatah dengan Ganden, ayam aduan milik Lokajaya itu. Tantangan itu tentunya diterima Lokajaya dengan gembira hati, karena memang sudah agak lama menunggu adanya ayam aduan yang berani melawan ganden.

Lokajaya merujuk ketika mendengar tantangannya mengenai soal taruhannya yaitu rumah tempat tinggal pedagang serabi itu seisinya yang dikira oleh tamu penantang itu menaruh sebuah kantong besar berisi emas, sebagai taruhannya. Melihat keraguan Lokajaya dan melihat sekantong emas yang nilainya jelas lebih besar dari pada harga rumah seisinya itu, dengan mengingat bahwa ssealma ini Ganden terbukti tak pernah terkalahkan, maka janda tua akuannya itu menganjurkan agar Lokajaya dengan berbesar hati menerima tantangannya. Dan Ganden sergeralah berhadap-hadapan dengan Tatah dalam sebuah Gelanggang di halaman depan rumah yang dikerumuni banyak penggemar adu jago. Pertarungan antar aGanden dan Tatah berlangsung hebat sekali, namun tidak begitu alma pertarungan itus udah selesai. Ganden Kalah, mati terkapar di tengah gelanggang.

Janda serabi dan kelima anak-anaknya menangis kekalahan Ganden yang menimbuni segenap keluarga dengan malapetaka. Lokajaya tinggal berdiri tegak saja dengan hati gusar pandangannya mengikuti kepergian tamunya setelah menerima tawaran bahwa kelak tamunya akan kembali untuk menempati rumah teruhannya, dan diharap Lokajaya sekeluarga sudah tidak berada di dalam rumah dan halaman itu, tetapi Lokajaya diperbolehkan mengambil dan membawa isi dari rumah dan halaman apa saja yang disukai.

Pada senja hari, lokajaya minta diri pada ibu akuannya akan pergi mencari pengganti rumah tinggal dan semua harta kekayaan ibunya yang telah lenyap dalam pertaruhan tadi pagi, dengan pesan agar ibu dan kelima anaknya jangan meninggalkan rumah itu sebelum dia pulang kembali dan supaya menuntut kehidupan seperti biasanya. Seolah-olah di situ tidak ada perubahan apapun. Kemudian Lokajaya pergi ke satu-satunya jalan lalu lintas di tengah hutan menghadang di sana sebagai penyamun. Tujuan hari siang dan malam dia menyamun di sana. Pada pagi hari yang kedelapan, dia telah bertukar niat hendak pergi merampok saja dipedesaan, tetapi mendadak terlihatlah olehnya orang setengah baya dan seorang muda yang mengantarkannya akan lewat di dijalan penyamunannya. Walau calaon korbannya itu berpakaian seorang ualma, namun tiada panglinglah Lokajaya bahwa calon korbannya itu adalah si pemilik tatah tempo hari. Pakaian keulamaannya tampak serba indah, serba mahal harganya. Lokajaya segera menghentikan mereka, diminta pakaian mereka dan semua yang mereka bawa atau nyawa mereka yang akan direnggutnya kalau mereka berani menolak permintaannya. Tetapi alangkah terperanjatnya Lokajaya ketika orang setengah baya itu menyebut namanya di minta agar ia melihat pohon aren yang ada disebelah kanannya, bahwa semua tirisan buah kolang-kaling sesungguhnya ems murni dan bisa diambil kalau memang bermaksud menghimpun kekayaan duniawi. Tampak pada pandangan mata Lokajaya semua tirisan buah kolang-kaling itu adalah emas yang kilau-kemilau yang indah dalam sinar matahari. Seketika lokajaya berjongkok di hadapan orang setengah baya itu sambil menyembah, minta ma'af, menyerahkan diri kepadanya serta minta diterima sebagai muridnya. Dengan senang hati permintaan itu diterima orang setengah baya itu, yang kemudian memberi perintah kepada Lokajaya agar segera pulang lebih dahulu kepada ibu akuannya untuk minta diri dan berkata kepadanya atas nama calon gurunya itu menghadiahkan rumah tinggal seisinya dan halaman itu dan selanjutnya disuruh menyusul ke pondok bonang.

Sesungguhnya, orang setengah baya itu tak lain adalah Sunan Bonang, dan anak muda pengiringnya itu adalah adik kandung bungsunya, yang kemudian hari tampil sebagai Sunan Drajat. Keduannya adalah putra sulung dan putra bungsu Sunan Ampel Denta yang diutus ayahandanya supaya mencari dan menemukan Raden Said.

Sunan Kalijaga dikenal juga sebagai syekh Malaya, nama pemberian dari sunan bonang, setelah dia selesai menjalankan khulwat yang merupakan ujian pertama kesanggupan berguru kepada Sunan Bonang itu. Demikian itu sebagaimana dituturkan dalam Babad Diponegara, babad demak versi Cirebon maupun Babad demak versi lain-lainnya. Hanya saja, terdapat perbedaan antara pengertian maupun praktik tapa ngluwat atau tapa mendem yang digambarkan dalam Babad Diponegoro sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, demikian juga berbeda dengan pengertian dan praktik tapa mendem sebagaimana yang digambarkan dalam Babad Demak yang lain, atau juga Babad Majapahit dan Para Wali. Inti ajaran tentang khulwat dalam Babad Demak versi Cirebon yakni menyekap diri lahir-batin dalam kesepian dari segala apa pun, kecuali harsu senantiasa hudlur ma' Allah, demikian itu selama 40 hari, siang dan malam. Sedangkan tapa ngluwat sebagai mana digambarkan dalam Babad Diponegoro, Babat Majapahit dan Para Wali dan Babad Demak yang lain, adalah menguburkan diri dalam tanah. Disebutkan bahwa Raden Said dipendam dalam tanah selama 100 hari.18

Agak berbeda dengan cerita tersebut, dalam Babad Tanah Jawi terbitan Balai Pustaka, di sana dinyatakan, sebagai ujian kepatuhan raden Said untuk berguru pada Sunan Bonang maka raden Said diminta untuk menunggui tongkatnya. Sedemikian patuhnya raden Said dalam memenuhi permintaan Sunan Bonang sehingga satu tahun kemudian Sunan Bonang menjenguknya kembali. Keadaan tempat telah menjadi hutan, dan hanya dengan mengucapkan salam Sunan Bonang dapat melenyapkan hutan itu sehingga tampaklah raden Said. Akan tetapi Raden Said hanya diraba denyut jantungnya , kemudian ditinggalkan lagi selama satu tahun lagi sehingga genaplah dua tahun Raden Said bertapa menunggui tongkat Sunan Bonang . setelah diajari ajaran-ajaran tentang ilmu, diminta pergi dan agar senantiasa taat pada Tuhan. Selama satu tahun kemudian Raden Said berkhulewat dan setelah itu dia pergi ke arah barat menuju Cirebon dan bertempat tinggal di sebuah hutan sepi yang disebut kalijaga. Di situlah dia bertapa dengan dua orang temannya dengan cara menjaga sungai di malam hari yakni berendam di dalam sungai. Setelah berhenti bertapa dan telah menjadi orang sakti Raden Said berganti nama menjadi Sunan Kalijaga.

Riwayat Hidup

1. Guru-guru Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga pertama berguru kepada Sunan Bonang, yang dikenal juga dengan nama Makdum Ibrahim. Menurut sumber-sumber sejarah, sebenarnya antara Sunan Bonang dengan Sunan Kalijaga mempunyai hubungan kekerabatan, karena Sunan Ampel Denta, ayah Sunan Bonang, memperistri Nyi Gede Manila, yakni Ibun Sunan Bonang yang tidak lain adalah anak perempuan Wilatikta. Tetapi dalam Babad Tanah Jawi versi yang mana pun, seakan mereka sebelumnya tidak pernah mengenal, setidak-tidaknya Raden Said tidak mengenal Sunan Bonang, sementara menurut salah satu sumber, Sunan Bonang sendiri memang secara sengaja disuruh ayahandanya agar mencari dean menemukan serta mempertobatkan Raden Said dan mengesankan bahwa Sunan Bonang sudah mengenal sebelumnya.

Pertemuan yang pertama adalah ketika mereka mengadu ayam, sebagaimana telah dikemukakan pada uraian terdahulu. Dalam banyak cerita tentang pertemuan-pertemuan pertama antara kedua orang itu menyatakan bahwa di bawah asuhan Sunan Bonang, Sunan Kalijaga pada awal mulanya merupakan seorang anak muda yang nakal, akhirnya dapat ditobatkan hingga jadi waliullah.

Kemudian Sunan Kalijaga juga berguru kepada Syekh Sutabris di Pulau Upih. Yang dimaksud pulau Upih ialah bagian kota malaka yang terletak di sebelah utara sungai, yang pada akhir abad XV merupakan daerah perdagangan yang paling ramai di kota itu, di mana banyak pedagang dari pulau jawa yakni dari daerah Tuban dan Jepara bertempat tinggal. Demikianlah, sebagaimana dinyatakan dalam naskah sejarah Banten dan menurut naskah ini, Sunan Kalijaga berguru pada Syekh Sutabris. Sunan Kalijaga menetap di tepi sungai kecil di Cirebon dan oleh karenanya kemudian disebut orang pangeran Kalijaga.19 Menurut sumber lain, kepergian Sunan Kalijaga sampai ke pulau Upih sebenarnya dalam perjalanan menyusul Sunan Bonang naik haji ke makkah. Tetapi sampai di pulau Upih itu oleh Syekh Maulana Maghribi disarankan untuk kembali ke jawa membangun masjid, menjadi penggenap wali sembilan. Disarankan oleh Syekh Maulana agar menunggu gurunya itu di atas kayu ditepi kali. Kembalilah Sunan Kalijaga ke jawa dan menetap di suatu desa di Cirebon, dan disinilah kemudian ia bertemu kembai dengan Sunan Bonang, setelah menunggu selama 100 hari. Desa yang dimaksud itu adalah desa kalijaga.

Menurut Serat Kandaning ringgit Purwa, Sunan Kalijaga pergi naik haji bukan menyusul Sunan Bonang, tetapi justru kepergiannya atas saran Sunan Bonang setelah mendapatkan berbagai ajaran pengetahuan agama dan belum dianggap sempurna kebajikan lahiriyahnya kalau belum pergi haji ke makkah.

Di Cirebon, setelah membuat pemukiman baru lengkap dengan perumahan nya, oleh Sunan Bonang diajak pergi ke Giripura menghadap Sunan Gunung Giri yang dianggap sebagai ketua para wali di jawa agar menerima Sunan Kalijaga sebagai wali yang kedelapan.

Adapun gurunya yang ketiga adalah Sunan Gunung Jati di Cirebon. Dalam beberapa sumber seperti Babad Dipanegara, Babad Tdanah Jawi maupun Babad Demak selain versi Cirebon, kehadiran Sunan Kalijaga di Cirebon adalah dalam usahanya untuk menambah pengetahuan dengan berkelana, bertapa dari tempat ke tempat lain, sehingga sampailah di desa kalijaga. Menurut salah satu naskah Sunan Kalijaga sebagai Syekh Malaya ditemukan oleh Pangeran Modang yakni Sunan Gunung Jati, dalam keadaan seolah-olah tidak menyadaridirinay bertapa di perempatan jalan di dekat pasar, terlentang tanpa pakaian seama sekali. Tatkala keempat istri pangeran modang tidak mampu menggagalkan / membangunkan Sunan Kalijaga maka Pangeran Modang sendirilah yang berkunjung ke temapt, dan dia baru bisa membangunkan seteah menunggu selama tujuh hari. Akan tetapi, menurut Babad Demak versi Cirebon, kehadiran Sunan Kalijaga ke Cirebon adalah dalam rangkaian dakwahnya sejak dari Rembang-Purwodadi-Salatiga-Kartasura-Kutaarja-Kebumen-Banyumas dan akhirnya sampai ke Cirebon. Disini Sunan Kalijaga sebagai Syekh Malaya diterima sebagai tamu terhormat yang ahli dalam bidang ilmu agama, sebagai penghulu suci.20 Sedangkan menurut naskah sejarah Hikayat Hasanuddin, kedatangan Sunan Kalijaga Dicirebon tidak lepas dari usahanya menyebarkan agama Islam, sekaligus menuntut ilmu pada Sunan Gunung Jati. Dalam fragment itu dituturkan, Sunan Bonang dan Adipati Demak telah pergi berziarah mengunjungi Sunan Gunung jati. Sunan Bonang, Pangeran Adipati Demak dan kaum keluarganya berguru kepada Sunan Gunung Jati. Demikian halnya Pangeran Kalijaga dan pangeran Kadarajad, putra Sunan Ampel yang dibelakang hari terkenal dengan nama Sunan Drajad. Penyebutdan Sunan Kalijaga dengan nama Pangeran Kalijaga dengan jelas menunjukkan, pada waktu itu Sunan Kalijaga masih belum menjadi wali. Tidak ubahnya dengan Sunan Derajad, yang pada waktu itu masih disebut dengan nama Pangeran Kadarajad.21

Pada akhirnya dinyatakan dalam berbagai naskah, Sunan Kalijaga di ambil menantu Sunan Gunung Jati yakni memperoleh adik kandungnya, tetapi apda sumber lain menyebutkan Sunan Kalijaga menikah dengan Ratu Syarifah Jamilah, kakak kandung Sunan Gunung Jati. Selanjutnya Sunan Kalijaga membuka pondok pesantren di daerah kaki bukit gunung jati, yaitu daerah hutan yang baru dibuka menjadi desa, namun belum lagi bernama.

Pertanyaan, bagaimanakah para guru-guru Sunan Kalijaga memberikan pengajaran, serta apa pula yang diajarkan mereka. Dalam beberapa sumber nampaknya memang tidak disebutkan. Kalaulah ada, ternyata pula bahwa masing-masing versi sumber menuturkannya dalam alur cerita maupun sudut pandang yang berbeda. Terdapat kecenderungan orang memahami cerita dari sumber babad secara harfiah, tetapi kecenderungan lain beranggapan bahwa banyak hal yang harus dipahami secara tersirat, oleh karena hal itu merupakan cerita sandi ataupun pasemon. Dalam hal ini, untuk memahami cara-cara yang dipergunakan oleh para guru Sunan Kalijaga dalam memberikan ajarannya maupun inti pelajarannya, sebagian pendapat dengan cara menafsirkan cerita sandi ataupun pasemon. Dalam hal ini, untuk memahami cara-cara yang dipergunakan oleh para guru Sunan Kalijaga dalam memberikan ajrannya maupun inti pelajarannya, sebagian pendapat dengan cara menafsirkan cerita sandi itu menyatakan antara lain sebagai berikut: dalam beberapa sumber diceritakan bahwa Sunan Kalijaga pada waktu muda senang berjudi, membegal orang, menjadi perampok dan mencuri. Semua itu sebenarnya hanya perlambang, Sunan Kalijaga seorang bangsawan yang senang sekali menambah pengetahuannya. Tidak peduli dengan cara mencuri, artinya jika ada orang memberi wejangan pada muridnya, beliau pun ikut memperhatikannya. Dan itulah yang disebut “mencuri pengetahuan”. Cerita selanjutnya menyatakan, jika perlu Sunan Kalijaga menjadi perampok, yang dimaksud tidak lain masuk ke rumah orang yang kaya pengetahuan dan dengan paksa minta wejangan. Jika sudah memperolehnya lalu dijadikan bekal berjudi, artinya digunakan untuk mengadakan musyawarah atau perdebatan, yang sudah tentu ada kalanya menang. Jika kalah malah beruntung, oleh karena bisa mendapatkan pengetahuan yang belum diketahui. Oleh karena itu Sunan Kalijaga dikatakan orang senang berjudi, oleh karena dengan jalan demikian pengetahuannya menjadi bertambah banyak.

Kebetulan waktu Sunan Kalijaga beradu jago dengan Sunan Bonang, jago Sunan Kalijaga bernama ganden, jago Sunan Bonang bernama tatah. Masudnya, waktu Sunan Kalijaga berbantahan dengan Sunan Bonang pengetahuan Sunan Kalijaga masih kurang tajam. Oleh karenanya diibaratkan Ganden melawan Tatah. Oleh karena kekalahan Sunan Kalijaga mengancam dan membegal Sunan Bonang, dengan maksud mau membegal pengetahuannya. Waktu bertemu, Sunan Bonang diceritakan memakai pakaian dan perhiasan yang sangat berharga. Maksudnya adalah, Sunan Bonang ternyata menanggapi maksud Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga diberi beberapa keterangan ihwal kenikmatan tuhan yang berupa panca indera, yang diibaratkan berupa buah kolang-kaling yang telah berujud menjadi emas, intan berlian dan batu permata berharga, semua itu dari keindahan wejangan dan dari nikmatnya Sunan Kalijaga menerimanya. Sunan Kalijaga merasa terpikat, oleh karenanya Sunan Kalijaga lalu mengikuti Sunan Bonang. Sunan Bonang sendiri waktu melihat keinginan Sunan Kalijaga, lalu menerimanya menjadi muridnya, disuruh menjadi cantrik di pondok bersama santri yang lain. Itulah yang dimaksud tapa pendam, bertapa dengan memendam diri, artinya mencegah hawa nafsu dan tidak berhubungan dengan orang-orang yang pada umumnya melakukan perilaku maksiat. Selanjutnya, Sunan Kalijaga telah ditumbuhi gelagah dan alang-alang, artinya selama di pondok, hati Sunan Kalijaga telah ditumbuhi banyak sekali pertanyaan yang belum dimengerti olehnya. Oleh karena itu, Sunan Bonang kemudian menebangi gelagah dan alang-alang itu, maksudnya adalah memberikan banyak sekali keterangan mengenai persoalan-persoalan yang timbul dalam hati Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga merasa puas, kemudian disuruh bertapa di sungai, maksudnya tidak lain, Sunan Kalijaga disuruh mensucikan hatinya dengan air tauhid, agar supaya hatinya teguh, tidak terkena bujukan orang lain, tetap dan mantap hati dan perasaannya. Dalam suatu fragmen dituturkan bahwa atas perintah Sunan Ampel Denta, Sunan Kalijaga agar diberi wejangan tentang ilmu filsafat tinggi oleh Sunan Bonang. Ilmu itu diberikan di atas perahu di tengah rawa. Seekor cacing yang ada dalam tanah yang dipakai untuk menambal bagian perahu yang bocor ikut mendengarkan ilmu tersebut kemudian berubah menjadi manusia, dialah Syekh Siti Jenar. Yang dimaksud cacing dalam tanah tersebut adalah tukang satang yakni juru pendayung perahu. Hal itu karena sudah menjadi perlambang ibarat bahwa pada umumnya orang bodoh disebut termasuk jenis hewan. Akan tetapi jika telah pandai, berarti telah purnalah kemanusiaannya. Demikian itu pula halnya dengan juru pendayung perahu yang dimaksud itu, yang sebneranya tidak mengerti alif ba ta, akan tetapi begitu mendengar wejangna adiluhung berasal dari Al-Qur'an seketika itu juga sadar akan kemanusiaannya, malah menjadi manusia sejati.

Demikian masih banyak lagi berbagai penuturan dalam naskah babad yang manapun, yang mau tidak mau terpaksa harus menafsirkan apa saja maksud tersurat, oleh karena itu merupakan bahasa kinayah dan terkadang sulit untuk dicerna dengan akal sehat.

Adapun initi ajran yang pertama kali diwejang kepada Sunan Kalijaga sesampainya dipondok Bonang sebagaimana banyak disebut dalam banyak naskah kuno tentang Sunan Kalijaga, adalah ilmu “Sangkan Paraning Dumadi”. Ilmu ini pada dasarnya menerangkan soal:

1. Dari mana asal-usul kejadian alam semesta seisinya, termasuk di dalamnya tentang manusia.
2. Kemana perginya nanti dalam kelenyapannya sesudah adanya,
3. Apa perlunya semua itu adanya sebelum lenyapnya nanti,
4. Apa perlunya manusia itu hidup dan
5. Apa hidup itu sejatiya. Ilmu sangkan paraning dumadi

Inilah yang kemudian juga menjadi wejangan Sunan Kalijaga kepada para putra-wayah dan para muridnya sebagai dasar dan permulaan segala wejangan-wejangan.22

2. Menjadi Wali

Menurut sumber naskah sejarah yang mana pun Sunan Kalijaga disebut sebagai salah satu waliyullah yang termasuk dalam walisongo. Kedudukannya sebagai seorang wali, menurut Babad Majapahit dan Para Wali, dikukuhkan di hadapan Sunan Giri yang dianggap sebagai ketua para wali di jawa. Dengan demikian, penetapan sebagai wali itu sesuai dengan ramalan semula semenjak Sunan Bonang diutus oleh ayahnya, Sunan Ampel Denta untuk mencari dan mempertobatkan Sunan Kalijaga sebagai upaya mempercepat proses ke arah kedudukannya sebagai wali.

Sebagai waliyullah, Sunan Kalijaga termasuk orang yang dikasihi allah, sebagaimana pengertian waliyullah adalah “kekasih allah”, Oleh karena itu sebagiaman lazimnya para wali, Sunan Kalijaga memiliki “karamah” pemberian dari Allah berupa keunggulan lahir dan batin yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Di samping itu, sebagai tanda kewalian, ia bergelar “Sunan” sebagaimana wali-wali yang lain. Menurutu salah satu penafsiran, kaata “sunan” berasal dari bahasa Arab, kata jamak dair “sunnat” yang berarti tingkah laku, adat kebiasaan. Adapun tingkah laku yang dimaksud adalah yang serba baik, sopan santun, budi luhur, hidup yang serba kebijakan menurut tuntunan agama islam. Oleh karena itu, seorang sunan akan senantiasa menampilkan perilaku yang serba berkebajikan sesuai dengan tugas mereka berdakwah, beramar ma'ruf nahi munkar, memerintah atau mengajak ke arah kebaikan dan melarang perbuatan munkar.

Peran Sunan Kalijaga dalam berdakwah tampak dalam berbagai kegiatan, baik kegiatan agama secara langsung ataupun dalam pemerintahan dan kegiatan seni dan budaya pada umumnya.

Diantara kasus kegiatan yang berkenaan dengan keagamaan, sebagaimana banyak disebut dalam naskah babad, adalah kegiatan Sunan Kalijaga bersama-sama wali yang lain dalam mendirikan masjid agung demak. Sudah jelas bahwa fungsi masjid, di samping menjadi sarana peribadatan, juga dipakai sebagai pusat kegiatan dakwah ketika itu sehingga dirasakan perlu adanya, kendatipun sulit untuk menentukan secara pasti kapan masjid tersebut di dirikan. Banyak keterangan antar satu dengan yang lain saling bertentangan. Di antaranya pendapat-pendapat tersebut adalah:

1. Menurut Candra Sangkala “naga Salira Wani” berasal dari gambaran petir di pintu tengah, adalah tahun 1388 saka atau tahun 1466 M.
2. Ada yang mengatakn berdirinya masjid demak itu pada tahun 1401 saka, ataupun tahun 1479 M. berdasarkan gambaran binatang bulus (penyu) di dalam tembok pengimaman (mihrab) masjid demak, karena gambar bulus itu diartikan sebagai berikut:

Kepala bulus : 1

Empat kaki : 4

Badan Bulus : 0

Ekor Bulus : 1

3. Ada lagi yang mengatakan, bahwa berdasarkan tulisan dalam bahasa jawa yang terpacang di pintu muka sebelah atas, bunyinya adalah “Hadegipun masjid yasanipun para wali, nalika tanggal 1 dulka'idah tahun 1428”, yakni bertepat dengan h ari kamis Kliwaon malam ju'at legi atau tahun 1501 M.
4. Menurut “Serta Kanda”, jadinya masjid Demak pada thun 1328 saka atau tahun 1407 M. hal ini sebenarnya lebih tidak masuk akal, karena raden patah mulai menjadi raja adalah sekitar 1477 M. dengan demikian, jarak antara waktu mendirikan masjid (tahun 1407 menurut serat kanda) dengan diangkatnya menjadi raja (tahun 1477) adalah 70 tahun. Waktu 70 tahun adalah lam bagi jarak antara berdirinya masjid dengan diangkatnya menjadi raja. Yang lebih masuk akal adalah jarak antaramenetapnya raden patah di Glagah Wangi dengan saat mendirikan masjid serta menjadi raja itu dalam masa yang berurutan, dan dalam masa yang dekat atau tidak begitu lama.
5. Menurut buku Babad Demak , berdirinya masjid Demak itu dapat diambil dari arti kata-kata “Lawang Trus Gunaning Janma”, yang menunjukkan angka tahun saka 1399 atau bertepatan dengan tahun 1477 M. keterangan ini kalu disesuaikan dengan gambar bulus, agak mendekati, karena mungkin tahun 1399 saka (=1477) itu sewaktu mulai meletakkan batu pertama, mulai membangun. Setelah dua tahun berjalan, maka jadilah masjid itu pada tahun 1401 Saka (=1479 M)sebagaimana yang dilambangkan dalam gambar bulus, diperingati menurut Candra Sangkala Memet.



Masjid Agung Demak menjadi terkenal, tidak saja karena masjid ini dibangun oleh wali, tetapi karena salah satu saka gurunya terdiri dari serpihan kayu-kayu tatal karya dari Sunan Kalijaga yang dikenal dengan sebutan “soko tatal”. Keikutsertaan Sunan Kalijaga tidak hanya mengupayakan bahan-bahannya, tetapi juga ikut bermusyawarah sebelumnya.

Dituturkan dalam salah satu sumber bahwa pembangunan masjid Demak berjalan lancar, masing-masing wali mendapat tugs membwawa empat tiang besar, yaitu Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Purwaganda, Sunan Gunung Jati, Pangeran Palembang, Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar. Hanya Sunan Kalijaga sendirilah yang membawa tiga buah. Jumlah semuanya delapan puluh tiga kurang satu, tatkala semuanya sudah siap, dan waktu mendirikan masjid tinggal satu hari, sementara saka guru kurang satu, maka Sunan Bonang menanyakan kepada Sunan Kalijaga akan tugasnya menyiapkan tiang saka guru itu. Sunan Kalijaga menyanggupinya, malam-malam menunggui orang mengapak (jawa:methel) kulit bagian luar, dikumpulkan serpihan-serpihan kayu itu, disusun, dilekatkan dengan lem Damar, kemenyan, blendok trembalo, lantas dibalut. Jadilah sebuah tiang dari tatal.

Adanya soko tatal ini adalah suatu kesengajaan, sebagai lambang kerohanian, bahwa pembuatan Soko tatal sebagai lambang kerukunan danpersatuan. Konon sewaktu mendirikan masjid agung demak, masyarakat Islam ditimpa perpecahan antara golongan, bahkan dalam bekerja mendirikan masjid itu pun terjadi perselisihan-perselisihan berbagai masalah kecil dan sepele. Sunan Kalijaga mendapat ilham, suasut petunjuk dari tuhan dan disusunlah tatal-tatal menjadi sebuah tiang yang kokoh.

Kasus lain juga bersamaan para wali yang lain adalah upaya memberantas ajaran akidah yang tidak benar atau pun sesat, yakni ajaran Pantheisme yang disebarkan oleh salah seorang yang semua termasuk dalam kelompok wali yaitu Syekh Siti Jenar. Dalam Serat Kandaning Ringgit Purwa maupun Babad Tanah Jawi dituturkan bahwa Syekh Siti Jenar dihukum mati di hadapan sidang pengadilan para wali, termasuk Sunan Kalijaga. Hukum itu dijatuhkan kepada Syekh Siti Jenar oleh karena pengakuannya bahwa dirinya adalah Allah. Ajarannya ten tang ketuhanan yang bersifat Pantheisme di pandang sangat membahayakan karena mengakibatkan masyarakat islam ketika itu meninggalkan Syara'. Faham itu disebut juga faham Wahdatul Wujud manunggaling Kawula Gusti.

Dengan kasus hukuman mati terhadap Syekh Siti Jenar tersebut, Sunan Kalijaga bersama wali lainnya tidak kompromi dengan keyakinan yang memang sangat membahayakan, meskipun pendekatan yang dipakai para wali dalam berdakwah juga dengan menggunakan pendekatan sufistik, tetapi sufisme yang diantu oleh Kalijaga bukanlah sufisme yang beraliran pantheisme, tetapi sufisme yang tetap menganut aqiah ahlussunah wal jamaah.

Sebenarnya pandangan Sunan Kalijaga jika dibanding dengan pandangan Sunan Ampel maupun Sunan Giri terhadap sisa-sisa keyakinan agama lama itu lebih toleran, dalam arti tidak mau memberantasnya seketika. Sunan Kalijaga berpendirian, bahwa rakyat akan lari begitu dihantam dan diserang pendiriannya. Dakwah harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Adat istiadat rakyat jarang terus diberantas, tetapi hendaknya dipelihara dan dihormati sebagai suatu kenyataan. Adapun cara merubah nya adalah sedikit-demi sedikit, member warna yang baru kepada yang lama, mengikuti sambil mempengaruhi yang nanti diharapkan bila rakyat telah mengerti dan paham akan agama akhirnya mereka akan membuang sendiri mana yang tidak perlu dan merombak atau menghilangkan sendiri mana yang tidak sesuai dengan agama. Para wali sebaiknya bertindak mengikuti dari belakang sambil mempengaruhi, atau mengikuti kebudayaan lama sambil mengisi jiwa Islam.

Sikap seperti itu telah pada berbagai karyanya yang kalau dilihat dari kacamata kebudayaan cenderung mengarah pada akulturasi antara kebudayaan lama dengan kebudayaan yang baru hasil kreasinya ke arah yang lebih islami. Sementara itu, kalau dilihat dari segi akidah, Sunan Kalijaga cenderung pada sinkritisme. Sebagai contoh, pendirian seperti itu tampak salah satunya pada penciptaan lambang gambar bulus di Mihrab masjid agung Demak yang bisa dipandang sebgai hasil karyanya, sebagaimana ide pembuatan soko tatal. Bulus adalah binatang yang hidup di dua alam di daratan dan di air, dan menurut masyarakat Islam hukumnya haram,tetapi mengapa gambarnya ditempatkan pada mihrab masjid yang justru tempat suci bagi orang Islam. Ternyata itu juga merupakan suatu bentuk kebijaksanaan berdakwah ketika itu dimana pemeluk agama lama di ingatkan bahwa di dalam masjid juga ada suatu lambang kesucian dan keabadian, sebagaimana kepercayaan agama lama (Budha) memandang bulus sebagai binatang suci. Hanya saja, kesucian dan keabadian dalam Islam diperoleh dengan cara melaksanakan shalat berbakti ke pada Allah Yang Maha Esa, biar hidup abadi di alam baqa nanti dengan bahagia.

Dalam media dakwah yang lain juga tampak sikap Sunan Kalijaga yang demikian itu, baik dalam penciptaan seni pakaian, seni suara, seni ukir, seni gamelan, termasuk juga kesenian wayhang. Bahkan terhadap kesenian wayang. Bahkan terhadap kesenian wayang ini Sunan Kalijaga dipandang sebagai tokoh yang telah menghasilkan kreasi baru, yaitu dengan adanya wayang kulit dengan segala perangkat gamelannya. Wayang kulit ini merupakan pengembangan baru dari wayang b eber yang memang sudah ada sejak zaman Erlangga. Di antara wayang ciptaan Sunan Kaijaga bersama Sunan Bonang dan Sunan Giri adalah wayang Punakawa Pandawa yang terdiri dari semar, Petruk, Garang dan Bogong. Wayang itu sebagai media dakwah yang senantiasa dipergunakan oleh Sunan Kalijaga dalam kesempatan dawahnya di berbagai daerah, dan ternyata wayang ini merupakan media yang efektif, dapat mendekatkan dan menarik simpati rakyat terhadap agama. Kemampuan Sunan Kalijaga dalam mendalang (Memainkan wayang) begitu memikat, sehingga terkenalah berbagai nama samaran baginya dikenal dengan nam Ki Dalam Sida Brangti, bila mendalang di Tegal dikenal dengan nama Ki Dalang Bengkok, tetapi bila mendalang di daerah Purbalingga terkenal dengan nama Ki Dalang Kumendung.

Peranannya dalam politik pemerintahan sudah dimulai sejak awal berdirinya kesultanan Demak sampai akhir Kesultanan itu. Bersama-sama dengan para wali yang lain, dalam suatu kelembagaan walisongo di mana salah seorang anggotanya adalah Sultan Demak sendiri, menunjukkan betapa penting peran wali ini dalam politik dan pemerintahan waktu itu. Dalam rangka dakwah Islam maka fungsi para waliyul amri itu adalah memberi nasihat tentang pelaksanaan tata pemerintahan agar senantiasa dijiwai roh Islam. Sebagai contoh, konon di antara wejangan Sunan Kalijaga teknik pembangunan kota Kabupaten maupun Kotapraja yang selamanya tampak di dalamnya terdapat empat bangun yaitu: 1) istana Keraton atau Kabupaten, 2) alun-alun, 3) satu atau dua pohon beringin, 4) masjid. Letaknya juga sangat teratur, yaitu letak kabupaten atau kraton selalu memangku alun-alun dengan pohon beringin di tengah alun-alun, membelakangkan gunung atau menghadap laut, dan letak masjid selalu di sebelah baratnya. Tata letak yang sedemikian itu di dasarkan atas falsafath baldatun thoyyibatun wa rabun Ghafur, negeri yang sejahtera diridhai oleh Tuhan. Akan tetapi peran para wali yang terdiri dari delapan orang waliyul amri dan seorang imam itu pada zaman kesultanan pajang sudah tidak berfungsi lagi, karena pada masa ke kesultanan ini lembaga walisongo telah dibubarkan dan diganti dengan lembaga baru yang terdiri dari seorang Sultan Dan delapan orang nayaka atau pelayanan.

3. Akhir Hayat Sunan Kalijaga

Tidak jelas kapan Sunan Kalijaga wafat, tetapi secara umum masyarakat memaklumi bahwa makam Sunan Kalijaga berada di desa Kadilangu. Tiap tahun tanggal 10 Dzulhijah diadakan ziarah resmi yang diselenggarakan oleh panitia besaran ziarah resmi yang diselenggarakan oleh panitia besaran dari Masjid Agung Demak ke makam Kadilangu. Memang Babad Tanah Jawi menuturkan kepindahan Sunan Kalijaga dari Cirebon ke demak dan menetap di Kadilangu. Kepindahan itu atas permintaan sultan. Setiap bulans ekali Sunan Kalijaga datang ke Demak dari tempat tinggalnya di Kalijaga, Cirebon. Dituturkan dalam buku itu bahwa yang menjemput adalah Sultan sendiri dengan disertai dua puluh ribu pengikut. Di Kadilangu pekerjaan Sunan Kalijaga mengajar mengaji agama Rasul, sehingga banyak pula murid yang menetap di dusun itu.

Akan tetapi adalah pendapat lain yang mengatakan bahwa Sunan Kalijaga dimakamkan di Cirebon. Kira-kira dalam jarak 2 ― Km. Ke arah barat daya darikotad Cirebon di sana terdapat pula sebuah desa bernama Kadilangu. Di desa inilah Sunan Kalijaga dimakamkan dan memang desa itu pula merupakan tempat tinggal resmi sewaktu beliau masih hidup. Makam Sunan Kalijaga dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan ramai diziarahi orang sebagai mana makma di Kadilangu Demak. Mereka yang mempercayai bahwa Sunan Kalijaga di makamkan di Cirebon mengajukan bukti bahwa masjid kesepuhan alun-alun Cirebon terdapat soko tatal seperti halnya yang terdapat di Demak. Dan menurut kepercayaan mereka, yang dimakamkan di Kadilangu Demak itu hanyalah benda-benda peninggalan nya saja. Beberapa sumber yang membenarkan keterangan itu antara lain:

1. Serat Sejarah Banten, oleh Prof. Dr. R.A. Hoesein Djajadiningrat.
2. Serat Walisongo, dari Sadu Budi, 1955
3. Serat Syekh Malaya, dari Musium Sana Pustaka
4. Babad Cirebon, Penghulu Abdul Qohar
5. Kitab Wali Sepuluh, oleh Tan Koen Swie, 1950

Menurut K.G.P.H. Hadiwijaya, Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang berasal dari harjamukti, sebuah dusun yang berjarak kira-kira 2 ― Km. Sebelah selatan kota Cirebon. Ia menetap di dusun itu dan dimakamkan di sana pula.23

Kenyataan adanya dua makam bagi Sunan Kalijaga bukanlah merupakan hal yang mengherankan, karena beberapa tokoh wali yang lain dipercayai oleh masyarakat mempunyai makam di berberapa tempat. Namun, menurut para ahli, bila terdapat makam dari satu pribadi di dua tempat, maka jasad nya tetap dimakamkan di satu tempat saja, sedangkan makam yang lain hanyalah merupakan petilasan atau penguburan barang-barang peninggalan tokoh yang bersangkutan.

Catatan Kaki


1. Lembaga Riset dan Survai IAIN Walisongo semarang, Bahan-bahan Sejarah Islam di Jawa Tengah Bagian Utara, Laporan Penelitian, 1982, hlm. 17
2. Amen Budiman, Walisanga Antar Legenda dan Fakta Sejarah, Penerbit Tanjung Sari, Semarang, 1982, hlm. 69
3. Ibid, hlm. 70
4. Lembaga Research & Survey IAIN Walisongo Semarang, Op.Cit, hlm. 17
5. Umar Hasyim, Sunan Kalijaga, Penerbit Menara, Kudus, 1974, hlm. 4
6. Ibid,
7. Ibid, hlm. 5
8. Ibid, hlm. 9
9. Ibid, hlm 10-11
10. Amen Bidiman, Op.Cit, hlm, 66-69
11. Ki M.A. Machfoed, Sunan Kalijaga, Jilid I, Penerbit Yayasan An-Nur, Yogyakarta, 1970, hlm. 23-24
12. Amen Budiman, Op.Cit. hlm. 68
13. G.P.H. Hadiwidjoyo, Kalidjaga, Saresehan Radyapustaka, Surakarta, 7Mei 1956, hlm. 5
14. Ibid, hlm. 14-16
15. Ibid, hlm. 8
16. Ibid, hlm. 13
17. Ki M.A. Machfoed, Op. Cit. hlm. 14-17
18. Ibid, hlm. 19
19. Amen Budiman, Op. Cit. hlm. 69
20. Ki M.A. Machfoed, Op. Cit, hlm. 21
21. Amen Budiman, Op. Cit. hlm. 18
22. Ki. M.A. Machfoed, Op. Cit. hlm. 18
23. Umar Hsyim, Op. Cit. hlm. 67

source: http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:UT0OSiicdUAJ:images.ekaari.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SHidlwoKCEkAABRU7I01/Sunan%2520kalijaga.rtf%3Fnmid%3D105317229+fatruq+artinya&cd=3&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

Sunday, April 18, 2010

Panji 9: Manusia Mahasiswa

Jabatan atau titel apapun, termasuk sebutan Mahasiswa, the agent of change, hanyalah manusia yang menyandangnya. Kalau pun ada istilah raja hutan atau jenderal kancil, manusia lah yang memberi sandangan. Maka kata-kata manusia menjadi sangat penting disini. Di dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah sebaik-baik ciptaan. Tentu saja ciptaan-Nya. Nya, Tuhan Yang Maha Esa. Disebutkan pula manusia sebagai khalifah fil ardh.
                Mahasiswa, seperti yang sudah ku tulis sebelum-nya, karena peristiwa ’98, kubayangkan sebagai manusia yang berilmu jadug sundul langit yang memahami keber-ADA-annya. Sederhananya merekalah manusia yang memahami maksud Tuhan menciptakannya. Bahkan kualitas seperti mahasiswa inilah yang, sekali lagi, kubayangkan sebagai kualitas khalifah fil ardh itu. Dimana selalu bergulat dengan ilmu-ilmu yang akan membawa umat manusia menuju akhir yang baik. Mungkin kau akan menyebutku naif, tapi itu lah adanya. Kubayangkan, mahasiswa adalah sosok dimana tak pernah ia terlepas dari buku-buku dalam semangat mencari kesejatian yang tak henti-henti. Diajar oleh guru-guru yang mumpuni, yang mengantar sampai pintu gerbang kebenaran sejati. Huh.
                Baru awal-awal semester kuliah disini, terbukalah semuanya. Karena kemudian baru ku sadari bahwa aku telah terjebak dalam bayang-bayang sangkaan ku sendiri atas kata ‘mahasiswa’. Aku memilih jurusan teknik mesin, program kependidikan di kampus ini. Ku pikir, memperdalam background SMK Teknologi yang telah ku miliki. Meski rasa-rasanya aku sangat ingin sekali jurusan sastra. Aku berangkat ke kampus agak lebih pagi mengingat hari ini dijadwalkan Ujian Akhir Semester. Ujian Mekanika  Teknik. Kupersiapkan segala sesuatunya pagi ini setelah hampir sampai subuh membuka-buka pelajaran Mektek yang pernah diajarkan. Meski aku pernah menerima pelajaran Mekanika Teknik sewaktu SMK dulu, aku tak ingin meremehkan ujian kali ini. Aku mempersiapkan dengan serius untuk itu. Aku harus mendapat nilai yang bagus, tanpa melanggar satu pantangan ku sendiri yakni nyontek. Kau mungkin tak percaya, tapi aku tak butuh kau mempercayaiku. Dari Sekolah Dasar sampai SMK, aku tak pernah nyontek. Dan kau tahu, aku selalu mendapatkan ranking 3 besar dalam kelas. Bagi ku itu sama dengan tak jujur. Dan semenjak aku kecil, bapak ku selalu mengatakan bahwa kejujuran akan membawamu sesuatu yang benar. Bagaimanapun pahitnya jujurlah, maka ia akan membawamu kepada kemuliaan. Entah bagaimana bapak ku, yang tamatan Sekolah Rakyat itu, mendapat ‘rumus’ seperti itu, aku percaya saja. Anggapan ku tentang ‘mahasiswa’ yang manusia ‘super’ itu memperkuat keyakinan akan rumus itu. Namun lain angan-angan, lain pula kenyataan. Ujian Mektek kali ini tak berlangsung sesuai dengan angan-anganku. Tak ada itu yang namanya ‘proses’ yang sehat dan jujur. Para mahasiswa di kelas ini menggunakan cara-cara yang tak jujur, setelah beberapa saat ujian dimulai tanpa pengawasan dari dosen. Sang dosen mengatakan, “nanti kalau sudah selesai, kumpulkan di loker ku”, kemudian beliau ngeloyor pergi begitu saja. Walhasil, aku yang sudah pernah mendapat pelajaran Mektek ini di SMK, jawaban ujian ku dijadikanlah rujukan kawan-kawan yang lain, bebas tanpa pengawasan. Sambil masih terbengong-bengong dengan kenyataan yang tak sesuai dengan angan-angan ini, ku berikan saja kertas jawabanku pada mereka. Tentu kau lebih tahu apa resikonya jika tak ku berikan jawabanku, bukan? Dan aku pun menunggui mereka sampai selesai menyalin jawabanku. Dan hampir pasti mampu kukatakan mereka menulis jawaban sama persis dengan ku, bahkan tanpa menanyakan apa yang mereka tak mengerti dari jawabanku itu. Dan apakah kemudian nilai hasil ujian kami sama jelek atau sama baik? Jawabannya adalah TIDAK. Ada beberapa kawan, yang jelas-jelas menyalin sama persis dengan jawabanku, justru mendapat A. Sementara aku D, yang berarti tak lulus dan harus mengulang tahun depan.
                Kekecewaan ku atas kejadian itu bukanlah satu-satunya peristiwa yang membuat rasa ketidakberterima-an ku semakin menjadi-jadi. Semakin bertumpuk- tumpuk kekecewaan ku ketika mendapati kenyataan yang jauh tak sesuai dengan angan-anganku sebelum-nya. Beberapa hari yang lalu, telah tertangkap basah sepasang mahasiswa yang sedang mabok dan bermesum ria di salah satu sekretariat UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di dalam kampus. Proposal-proposal kegiatan fiktif yang dilakukan oleh oknum mahasiswa yang butuh uang. Belum lagi gaya hidup mahasiswa yang jauh dari sikap prihatin. Kenyataannya sangat sedikit dari mereka yang membiasakan diri dengan membaca buku. Jauh dari angan-angan ku tentang kehendak yang tinggi dalam pencarian kebenaran. Disisi lain ketika mereka pulang ke kampung halaman, mereka disanjung masyarakat sebegitu hebatnya sehingga mereka bukan lagi digolongkan sebagai orang biasa, rakyat biasa, melainkan dimasukkan dalam golongan kaum intelek-tual, diagungkan sedemikian rupa, hingga dianggap serba tahu, serba bisa. Ah kenapa aku jadi tidak adil menilai mahasiswa, banyak juga kok sisi-sisi lain dari mahasiswa yang positif, mungkin aku saja yang tertipu dengan angan-anganku sendiri yang terlalu berlebihan mengenai mahasiswa, sedangkan kau tidak.

Panji 8: Pintu Gerbang


Saat itu beberapa hari setelah lebaran. Aku pun pamit kepada bos angkot K40. Aku memilih mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru di Malang, setelah bos angkot tak mengijinkan aku untuk  minta narik angkot setengah hari setiap harinya, sementara setengah harinya ku buat kuliah. DIa menginginkan aku memilih dan fokus pada pilihan itu. Antara narik angkot dan kuliah. Kalau mau narik angkot, narik saja, kalau mau kuliah, fokus kuliah, katanya waktu itu. Maka hari itu aku memilih kuliah. Di Malang, karena lebih dekat dengan Kediri. Dan kupikir celenganku sudah cukup, setidaknya untuk membayar biaya awal masuk sampai tiga semester ke depan. Saat itu belum ada sebulan setelah lebaran. Sedangkan Maia, sang putri, entah kemana. Bahkan dia tak pamit atau mengatakan apa-apa padaku. Pertemuan terakhir dengannya adalah bulan ramadhan malam ke 15, saat aku bercerita dan mengungkapkan rasa suka ku padanya waktu itu. Ku pikir Maia sedang pulang kampung dan belum kembali ke Jakarta. Dia mungkin akan kembali sekalian setelah lebaran haji.
                Sekarang aku akan pulang dan entah kapan akan kembali ke Jakarta. Bodohnya aku, tak meninggalkan jejak kepada Maia. Ya, berulang-ulang kali ngobrol dengan Maia, aku tak pernah memberinya alamatku di kampung atau sebaliknya. Oh ya, dititipkan kakak Maia saja. Tapi aku tak beruntung, rumah kakak Maia beberapa hari ini tutup. Entah kemana penghuninya. Sungguh bodohnya aku. Perjalanan pulang hari itu juga harus aku lakukan. Mengingat aku harus mempersiapkan segala sesuatu keperluan mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Aku tak bisa menunggu Maia kembali ke Jakarta. Iya kalau kembali, jika tidak? Aku tak mau melewatkan kesempatan terakhirku mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru kali ini. Sungguh sedih harus meninggalkan Jakarta, terlebih tanpa meninggal-kan jejak alamat kepada Maia. Maka aku pun berangkat pulang dengan separuh hati dipenuhi penyesalan.
****
               
Di depan pintu gerbang kampus itu aku ter-mangu. Hari ini adalah ujian Seleksi Penerimaan Maha-siswa Baru. Aku mengikuti ujian ini berbekal keyakinan. Aku tak pernah ikut bimbingan belajar atau semacam-nya. Aku hanya membeli sejenis buku latihan soal untuk SPMB. Dan sekadar membuka-buka catatan mata pelajaran sewaktu aku sekolah di SMK dulu. Semuanya masih tersimpan rapi di dalam kardus. Meski sebagian telah menguning dimakan usia, namun masih terbaca. Hari ini ujian itu akan berlangsung. Aku harus berhadapan dengan ratusan bahkan mungkin ribuan fresh graduate yang tentu saja masih segar pula dalam ingatan mereka pelajaran-pelajaran yang diajarkan saat SMU. Telah ku tetapkan hati. Ku bulatkan tekad. Aku harus masuk Perguruan Tinggi ini.
Kupilih Program Studi Keguruan, karena memang sudah dari SMP, aku ingin menjadi seorang guru. Aku teringat kata-kata guru bahasa Inggris SMP ku waktu itu. Pak Bambang nama-nya. Beliau penah berkata di depan kelas ketika mengakhiri pelajaran kala itu. Beliau berkata, “…anak-anak, kalian harus jadi orang pandai. Karena mungkin lima atau sepuluh tahun lagi akan diberlakukan perdagangan bebas…dan hal itu menuntut kalian untuk mampu bersaing kualitas dengan SDM-SDM asing, jika kalian tidak mampu bersaing, maka silakan menjadi tukang sapu di negeri sendiri…”. Aku tak hanya sekadar ingat kata-kata itu, tapi juga sangat membekas dalam diriku. Maka entah mengapa sejak saat itu aku ingin jadi guru. Guru bagi ku adalah pintu gerbang segala ilmu. Dan aku pun mulai berandai-andai. Jika misalnya aku jadi guru, maka aku akan mempunyai murid paling tidak 25 murid per kelas. Dan tiap tahun sebuah sekolah mampu meluluskan kurang lebih 350 murid. Betapa aku telah mengantarkan mereka menuju kesuksesan di masa-masa yang akan datang. Setidaknya aku bisa memberi motivasi kepada mereka seperti yang dilakukan Pak Bambang kepada muridnya. Jika kata-kata Pak Bambang delapan tahun yang lalu mampu memotivasiku hingga saat ini, masa sih dari 350 murid per tahun lulusan ku kelak, tidak ada satu pun yang termotivasi sepertiku saat itu.
Ujian masuk perguruan tinggi pun telah usai. Panitia penyelengara SPMB memberitahukan bahwa pengumuman kelulusan akan dimuat di media cetak paling lambat sepuluh hari lagi. Dan aku pun menunggu pengumuman itu dengan harap-harap cemas. Aku mulai sering bengong. Lulus enggak ya, lulus enggak ya. Aku amat sangat mengharapkan aku bisa lulus. Sementara kecemasan dan keraguan ku pada diri sendiri hampir setiap saat mengiringi harapanku itu. Maka setiap kali keraguan itu datang aku mengucap lafadz Lahaula walaquwwata ila billahil aliyil adzim. Terus berulang-ulang ribuan kali. Akankah Tuhan mengabulkan keingin-an anak seorang buruh tani, sekaligus seorang sopir angkot yang berangan-angan menjadi mahasiswa? Mahasiswa yang mempunyai kualitas khalifah fil ardh, seperti yang kubayangkan? Manusia mahasiswa yang memahami maksud Tuhan menciptakannya? Entahlah. Aku kembalikan semuanya kepada Tuhan saja. Lahaula walaquwwata ila billahil aliyil adzim.

Panji 7: Tikungan Jalan Baru


Sore ini seperti biasa menjelang jam 4 aku ber-siap untuk pulang. Posisi ku sekarang di Kampung Rambutan. Pas, sekali jalan lagi, setelah itu langsung ngibrit pulang. Baru sampai pada tikungan Jalan Baru, angkotku yang sedang kosong itu pun berjalan pelan. Tak tahu dari mana dia berasal, seorang anak usia berkisar enam belas tahunan, langsung saja naik ke dalam angkot ku dan mengatakan, “ayo bang, buruan bang, selamatkan aku bang”. Aku yang tak mengerti duduk persoalannya langsung tancap gas. Untunglah tidak sedang macet.
                “Ada apa, dik?” tanya ku. Sejenak anak itu kebingungan. Berkali-kali menengok ke belakang. Ia mengkhawatirkan sesuatu. Entah apa itu. Sekilas ia melirikku. “Ada apa dik?”, tanya ku lagi. Sekarang ia menatapku menyelidik. Mungkin merasa aman, dia kemudian bercerita. “Aku lari dari kejaran orang-orang, bang. Mereka kira aku copet”, dia pun menunduk, berpaling dari tatapan mataku yang mengarah padanya. “Aku takut dihakimi mereka, bang”, lanjutnya. Aku benar-benar bisa merasakan ketakutan anak itu. “Tapi apa kau benar-benar nyopet?”, tanyaku. Anak itu menggeleng kecil tanpa bicara. Kemudian ia menatapku, seolah menimbang-nimbang sesuatu. “Terpaksa, bang”, katanya. Ku alihkan kaki ku ke pedal rem. Langsam saja. Seorang ibu setengah baya naik ke dalam angkotku. Sedang anak kecil yang semula berada di bangku belakang kini pindah ke jok depan di samping kiriku.
                “Ibuku sedang sakit, adikku sudah tiga hari belum makan”, lanjutnya. “Bapakmu?”, aku bertanya. “Meninggal empat bulan yang lalu, ditabrak orang”, katanya. Dadaku berdesir. “Dimana?”, kataku. “Apanya?”, anak itu tanya balik. “Bapakmu ditabrak dimana?”, kuperjelas pertanyaanku. “Cengger, tikungan setelah lampu merah Taman Mini, sebelum masuk terminal”, anak itu menjawab sambil menatapku. Aku tersentak. Tatapan ku tetap lurus ke jalan di depanku. “Rumahmu mana?”, tanyaku. “Kranggan”. “Dekat pasar Kranggan”, lanjutnya singkat. “Dapat berapa hari ini?”, aku bertanya sambil terus menatap jalan di depanku. Aku tahu dia sedang melihatku. “Ini hari pertama ku”, ia menjawab. “Pertama kali dan gagal”, lanjutnya. Sampai Pondok Gede angkot ku terisi 7 orang. Ibu-ibu yang di Garuda, 3 dari Halim dan 3 lagi dari Lubang Buaya. Tentu saja anak itu dan aku tak kuhitung. “Biar nanti ku antar kau pulang”, kataku pada anak itu. “Nanti setelah semua sewa turun”, lanjutku. “Baik, bang, terima kasih”, katanya. Tak ada cakap-cakitap lagi antara aku dan anak itu. Dan sewaku pun telah habis sebelum pertigaan Komsen. Sesampainya di pertigaan Komsen, kubanting setir ku ke kanan menuju Kranggan.
                Sebuah kontrakan petakan berukuran 3 x 3 meter. Dapur, tempat tidur, dan ruang tamu menyatu. Hanya di pisahkan selembar kain yang tergantung pada tali, antara dapur dan ruang tamu yang sekaligus tempat untuk tidur. Terbaring di atas tikar di situ, seorang ibu. Usianya kuperkirakan belum genap empat puluh tahun. Disampingnya tertidur seorang bayi usia 3 tahunan. Kukira itu ibu dan adik anak itu. Di dinding tergantung satu-satunya pigora seukuran kalender. Sebuah poto keluarga. Dan tatkala ku lihat seorang sosok bapak dalam poto itu. Astaga, tenggorokanku seketika tercekat. Ia adalah orang yang ku tabrak mati saat itu. Perhatianku berpaling ke ibu yang sedang sakit tadi, ketika ia berusaha bangun dari tempat tidurnya, bermaksud menyambut kedatanganku. “Sudah ibu berbaring saja. Ibu istirahat saja”, kataku. Tapi kata-kataku tak menghalangi maksudnya. Ia tetap bersi keras untuk duduk meski dengan susah payah. “Tong, bikinkan teh buat abangnya”, katanya memanggil anaknya. “Ini bu, sedang aku bikinkan”, kata anak itu dari balik tirai. “Aku tadi cuma mengantar si Entong pulang saja kok Bu. Saya tidak lama”, kataku. “Kebetulan tadi…”, aku berhenti berkata-kata sejenak melihat si Entong datang membawa secangkir teh hangat sembari memandangku dan mengedipkan mata. Aku tanggap dengan kode itu. “…kebetulan saya dan Entong sudah lama kenal di terminal. Dan tadi ketemu di jalan, sekalian saja aku antar pulang, sekalian pengen tahu rumah Entong”, kataku sekenanya. Ibu Entong mengangguk. “Hari ini rame Tong jualannya?”, tanya ibunya kepada Entong. “Rame, Mak, lumayan. Banyak yang beli rokok dan tisu ke Entong”, anak itu menjawab pertanyaan ibunya sembari melirikku. “Syukur deh”, kata ibunya. “Besok entong bisa beli obat buat emak, biar emak cepat sembuh dan bisa jualan lagi”, ujar si Entong. “Beliin susu dan bubur buat adikmu saja, emak gak pa pa, emak belakangan saja”, kata ibu entong. Aku hanya terdiam perih melihat kondisi mereka. Ini semua karena salahku. Perlahan-lahan trauma itu menyesaki dada dan meluber sampai otak ku. Tak mampu rasanya aku tahan rasa bersalah ini.
                Sore itu aku pun pamit ke ibu entong tanpa banyak basa-basi. Entong mengantarkan ku sampai mobil angkot yang ku parkir di luar gang. Semua uang yang ada di tas pinggangku, hasil tarikan hari ini,  kuberi-kan kepada Entong beserta recehnya. “Mulai besok kau ikut aku aja Tong”, kataku. “Kau bantu gunting sewa angkotku”, lanjutku. “Baik, Bang”, jawabnya singkat. “Kamu bisa nyetir mobil?”, tanyaku. “Tidak, Bang”, kata Entong. “Nanti kuajari kau nyetir mobil, biar kamu bisa narik angkot juga seperti abang”, aku menawarkan. “Baik, Bang”, jawabnya. Tak lama setelah itu, aku pun menyalakan mesin mobil ku dan langsung tancap gas pulang dengan dada dan kepala yang disesaki rasa bersalah.
                Sampai di rumah sekitar Maghrib. Ibu-ibu perumahan dan Maia pun sudah tak kelihatan di pos ronda. Mungkin sudah pulang. Ku cuci mobil angkot ku. Kuambil uang secukupnya dari tabungan yang ku taruh di lipatan buku ‘Tuntunan Shalat Wajib’ yang ku beli di Senen kala itu. Setoran hari itu kuambilkan dari tabunganku. Tepat sebelum Isya’ kelar sudah semua urusan dengan Bos Angkot. Seperti hari-hari sebelum-nya, di bulan Ramadhan ini, pada jam segitu, aku menunggu Maia mengajak jalan bareng menuju masjid untuk shalat Tarawih, tapi Maia tak muncul kali ini. Dan saat-saat dimana rasa bersalah ini memenuhi dada dan kepalaku, aku hanya butuh senyuman Maia untuk me-ringankannya. Bukan untuk menghilangkannya. Aku tahu ini tak akan pernah bisa hilang sampai kapanpun. Setidaknya jika ada Maia, aku bisa mendapatkan semacam suntikan semangat hidup.
                Maia dimana kau, aku butuh kamu.

Panji 6: MAIAFANA

Rumah kontrak tempat aku tinggal ini terletak pojok blok F. Di depannya terdapat jalan membujur yang di ujungnya terdapat tikungan yang menghubung-kan blok F dan blok D maupun E. Berseberangan dengan rumah tempat tinggalku terdapat semacam Poskamling, dimana para ibu-ibu muda perumahan yang tinggal di sekitar seringkali ngemong atau ndulang anak-anaknya. Termasuk Maiafana.
Dia belum lama di sini, katanya, belum genap tiga bulan. Dia ingin mencari kerja di Jakarta. Di kampung sepi nggak ada apa-apa, katanya waktu itu. Dia tinggal di rumah kakaknya di Blok D, blok tepat di seberang belakang rumah kontrakan ku. Dia berasal dari Tasikmalaya. Mungkin benar kata orang, bahwa orang sunda mah geulis-geulis pisan. Setidak satu bukti telah memperkuat kebenarannya. Maiafana, berkulit bersih, bibir tipis, hidungnya mungil. Rambutnya hitam ikal sebahu, meski tak banyak. Dan yang paling penting, kalau sedang itu tersenyum itu loh, ampun-ampun rasanya aku dibuatnya. Huh, gemes aku.
Semenjak obrolan yang berujung perkenalan aku dengan Maia waktu itu, kami semakin sering ngobrol. Kadang berdua saja. Kadang juga rame-rame sama ibu-ibu di sekitar situ. Seperti biasa, sekitar jam 4 sore di poskamling depan rumah. Aku pun mulai bisa sedikit demi sedikit melupakan tabrak mati itu. Meskipun tetap saja tak bisa hilang sepenuh trauma dalam diri ku. Entahlah, aku selalu merasa senang jika bisa ngobrol dan ketemu sama Maia. Serasa tak pernah bosan melihat wajahnya. Apalagi senyumannya. Ini adalah kali kedua aku merasakan hal-hal seperti ini setelah SMP dulu. Mungkinkah rasa ini tak akan tersampaikan seperti SMP dulu? Sekarang aku belum tahu.
Banyak yang Maia lakukan untukku, meski tiap kali ketemu kami hanya ngobrol biasa-biasa saja. Mungkin dia tak sadar melakukan itu. Kini aku pun mulai membuka diri, jika sebelumnya hanya mengurung diri di kamar. Dan aku sudah nyopir lagi mulai beberapa hari yang lalu. Meski Maia tak menyadarinya, dia telah memberikan semangat baru buatku. Aku mulai mereka-reka kembali keinginan ku untuk menimba ilmu di Perguruan Tinggi. Tahun ini harus kulaksanakan rencana ini. Dan ketika aku ceritakan keinginan ku itu, dia sangat mendukung. Katanya waktu itu, “iya, bagus itu”. Alamak, dia terseyum pada ku. Ditambah kerlingan lagi.
Aku memang sudah mulai nyopir kembali. Tapi tak sengoyo dulu lagi. Jika dulu berangkat pagi pulang malam, kini sekitar jam 4 sore aku pasti sudah pulang. Ku parkir mobil di samping rumah. Aku cuci mobil itu di rumah, sambil sering kali ku tengok ke poskamling, mungkin saja Maia ada disitu. Kok belum ada ya?! Kemana ya?! Aku membatin saja. Seolah-olah tahu sedang ku tunggu-tunggu, ia muncul tiba-tiba dari balik tembok pagar, sambil sengaja mengejutkanku. Hwaaa. Kemudian dia tersenyum. Ya ampuuunnnn, mati aku. “Kok masih sore udah pulang mas”, dia membuka obrolan, sekali lagi, seolah dia tahu aku sengaja pulang sore terus untuk bisa ketemu dia. Atau setidaknya melihatnya. Ku jawab sekenanya, “tarikan lagi sepi”, sambil nyengir kuda. Dan obrolan pun mengalir begitu saja.
Maiafana suka sekali melihat bunga Panca Warna yang ku tanam di pot besar di teras rumah. “Dulu waktu kecil aku punya bunga Panca Warna, sayang…”, ujarnya. “Kenapa?”, tanyaku. “…sayang, dia kini telah mati, kesambit ibu saat bersih-bersih rumput dengan sabit. Padahal sudah berkali-kali berbunga, sudah lama sekali aku merawatnya”. Dia menilik-nilik bunga dalam pot besar itu. Sementara aku teruskan mencuci mobil. Kemudian dia mengambil selang air yang ku buat mencuci mobil. Dia menyiram bunga-bunga di pot sekalian halaman rumah ku. Aku memperhatikan dia yang lagi khusyuk menyiram bunga. Sekali lagi dada ku berdesir.
****
Saat itu bulan Ramadhan malam lima belas. Jika malam-malam sebelumnya dia menghampiri ku untuk mengajakku berangkat bareng untuk shalat tarawih, malam ini tidak. Dia menhampiri ku dan menanyakan kepadaku dari balik pagar halaman depan, “mas tarawih?”. Kubalik bertanya, “kamu?”. “Lagi enggak”, dia menjawab singkat. Kubalas, “aku juga enggak ah”. Dia tersenyum. Kalau sudah tersenyum begitu. Aku ampun. Kami pun duduk-duduk berdua dan berbincang di pos jaga depan rumah. “Lintang dan Diaz nggak ikut?”, tanyaku. Lintang dan Diaz adalah kedua keponakannya. “Ikut ayah dan ibunya”, dia jawab singkat. Ada apakah gerangan? Dia jadi lebih pendiam dari biasanya. Tak seperti biasanya obrolan kami ini banyak diamnya. Ku pancing-pancing untuk cerita apa masalahnya. Dia tak bergeming. Kami hanya bisa memandangi wajahnya. Dan aku tahu dia kadang melirikku juga dari sudut matanya yang indah. Mengetahui aku sedang memandanginya dia pun menunduk. Seolah menyembunyikan sesuatu. “Baiklah, aku saja yang bercerita”, kataku. “Dahulu kala ada seorang pemuda papa. Pemuda kampung yang tak punya apa-apa, selain keluguan. Dia berangkat ke kota raja untuk satu tujuan. Dia ingin menjadi orang pintar. Dia ingin menimba ilmu, supaya bisa menjadi manusia yang seperti maksud Tuhan menciptakannya”. Maia melirikku, ampun Tuhan, aku membatin. Kemudian ku lanjutkan ceritaku. “Di tengah perjalanannya, dia bertemu seorang cantik jelita, yang tak lain adalah putri sang raja. Dan pemuda itu pun jatuh cinta. Sang putri terlihat sudah matang dan dewasa. Dan memang benar, usianya diatas pemuda papa itu. Bahkan konon sang raja, ayahnya, sudah mencari-carikan seorang ksatria yang cocok untuk sang putri”. Maia mendengar dengan serius. “Terus?” dia ingin aku melanjutkan ceritaku. Dan aku pun melanjutkan ceritaku, “Dalam hati sang pemuda yang dilanda asmara itu, sang putri adalah satu-satunya. Sang pemuda memilih untuk tak menikah jika tidak dengan sang putri”. “Terus apa kabar dengan cita-cita sang pemuda?”, Maia bertanya. “Justru itu, sang pemuda semakin bertambah semangat untuk menimba ilmu. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk sang putri kelak”, lanjutku. “Apa sang putri mau menunggu?”, tanyanya. “Itulah masalahnya, aku tak tahu, apakah sang putri mau menunggu sang pemuda papa itu?”, kataku. “Lho, kok gak tahu? Bukannya mas yang punya cerita?”, Maia menatapku, penasaran. Kujawab, “seperti yang kamu bilang, bahwa yang punya cerita adalah aku”. “Iya, lalu?” kata Maia. “Karena aku yang punya cerita maka aku berhak mereka-reka ceritanya kan?!”, kataku. “Lalu?”, kata Maia. “Bagaimana kalau jika sang pemuda papa itu aku. Dan sang putrinya adalah kamu?”.
Sang Putri tak menjawab.

Panji 5: Jiwa yang terbelah


Di dalam pesawat televisi kecil 6 inch peninggal-an orang yang terdahulu ngontrak di sini, yang tak lain adalah teman sekampungku yang kini nyopir di Tangerang itu, ku nyalakan. Sebuah tayangan pertunjukan sulap itu terlihat agak kabur. Setelah ku putar-putar antena, kini nampak jelas. Dengan tampilan ala komedian, seorang pesulap dengan mahir memain-mainkan tongkatnya. Entah sejak kapan aku selalu tak percaya sama tukang sulap. Mereka itu hanyalah tukang tipu. Dengan segudang rahasia trik-trik yang mereka sembunyikan untuk mengelabui penonton. Tapi kali ini aku tak berkeinginan mengubah chanel TV, mungkin karena sulapnya lucu. Ku perhatikan tingkah polah san pesulap memain-mainkan tongkatnya. Ajaib, tongkat sepanjang sekitar 40 sentimeter itu, entah bagaimana, kini memanjang. Kemudian memendek. Memanjang, memendek. Memanjang, memendek. Sang Pesulap berlagak lagu seperti orang yang membanggakan diri, seolah karena di mampu merubah tongkat itu memanjang dan memendek. Sampai, masih dalam bagian akting pertunjukan sulap, tongkat itu memanjang, terus memanjang, terus memanjang. Kini  sang pesulap bertingkah layaknya itu kesalahan yang tak mampu ia kendalikan. Tongkat itu terus memanjang. Sampai pada panjang tertentu tongkat kaku itu dengan sekali sentak kini telah berubah menjadi tali. Lunglai. Sontak disambut tepuk tangan penonton dalam TV. Aku tersenyum. Sejenak lupa peristiwa tabrak mati. Acara  sulap-sulapan selesai.
                Setelah ku matikan TV, ku perhatikan kamar kontrakan. Sudah hampir lima minggu setelah peristiwa tabrak mati. Kondisinya seperti kapal pecah. Sumpek. Baju-baju kotor, buku-buku bekas, abu rokok dan puntung yang luber dari asbaknya, semuanya berantak-an. Ku buka jendela kamarku yang jarang terbuka. Angin segar dari luar merasuki kamar. Diam-diam aku menikmati udara segar itu. Berniat bersih-bersih, belum sempat aku beranjak mengambil sapu dan kain pel, di seberang jalan yang tampak dari sudut jendela, melintas seorang gadis manis mengendarai sepeda federalnya melirik kemudian tersenyum. Aku pun ikut tersenyum membalas senyumannya. Tapi roda sepeda federalnya terus melaju hingga menghilangkannya di tikungan jalan.
                Setelah beres bersih-bersih kamar kapal pecah itu, kulihat jam dinding menunjukkan pukul 4 sore. Ku biarkan saja jendela kamar dan pintu terbuka. Selama ini aku jarang membukanya. Pagi ku tinggal bekerja, mereka tertutup. Pulang-pulang sudah malam, mereka masih tertutup. Begitu seterusnya. Karat-karat yang menyelimuti engsel-engsel menjadikannya susah ter-buka tadi. Tapi syukurlah, sekarang dia terbuka lebar dan menghirup lebih banyak oksigen ke dalam ruangan kamar kontrakan. Hari ini beres bersih-bersih dalam rumah. Besok aku berencana membersihkan bagian luar rumah. Rumput-rumput di halaman itu sudah lama tak ku sentuh. Aku sudah lupa kapan terakhir menata dan merapikannya. Bunga-bunga di pot teras rumah pe-ninggalan orang yang kontrak terdahulu pun sudah sebagian besar mati.
                Esok paginya. Aku berangkat pagi-pagi sekali ke penjual bunga. Aku pilih mawar merah, melati, sedap malam. Aku berencana menanam mereka di pot-pot teras rumah. Setelah selesai membayar, aku beranjak meninggalkan toko penjual bunga itu. Namun sekelebat, dari sudut mata ku terlihat bunga yang menarik perhatianku. Letaknya memang agak tertutup oleh bunga-bunga lain. Bunganya sangat sederhana dalam bentuk bahkan sebagai tanaman hias, menurutku, dia cenderung tak begitu menarik dan tak memenuhi syarat fungsi tanaman hias. Mungkin karena alasan tersebut, si penjual bunga meletakkannya di bawah bunga-bunga yang lain.  Bunganya sendiri sebenarnya kecil-kecil, tapi karena menggerombol maka terlihat bulat besar. “Itu bunga pancawarna”, kata si penjual bunga. Si penjual bunga memberitahuku bahwa bunga ini bisa berubah-ubah warna bergantung keasaman tanahnya. Awal mekar dia putih, kuning, biru, semburat keunguan, merah dan atau beranjak jingga. Beda keasaman tanah beda juga warnanya. Aku tertarik dengan bunga itu. Justru karena dia sangat sederhana. Dan aku pun membeli satu-satunya bunga pancawarna yang tersisa di toko bunga itu. Beberapa pelanggan yang semuanya perempuan itu senyum-senyum melihatku memborong banyak bunga itu. Aku tak mau mereka-reka apa maksud mereka.
                Tak terasa pulang dari toko bunga sudah hampir masuk dhuzur. Tak menunggu lama lagi, aku mem-persiapkan sabit dan cangkul. Ku rapikan dulu rerumput-an di halaman, baru ku siapkan tanah dan pot untuk tanaman itu. Satu per satu ku masukkan bunga-bunga hias ke dalam pot-potnya masing-masing. Pertama melati, kedua sedap malam, ketiga mawar dan bunga pancawarna ku tanam di pot yang paling besar. Setelah itu ku bersihkan sisa-sisa rumput dan tanah yang tercecer. Dan beres sudah. Halaman ku kini nampak lebih asri dan rapi.
Lama sekali aku pandangi halaman baru ku. Kemudian akupun terlamun. Masih terbayang dalam lamunanku peristiwa tabrak mati itu. Aku meringis menahan tangis. Sampai akhirnya ku tersadar ketika terdengar suara anak-anak kecil dari balik tembok rumah, di tikungan jalan itu. Tak lama, muncullah dua anak kecil umur 6 dan 4 tahunan. Diikuti seseorang…Hei, dia gadis manis yang waktu itu. Dia sedang membawa semakok makanan. Kelihatannya untuk anak-anak itu. Hah, si gadis manis sudah punya dua anak? Huf, aku terlambat? Apa yang ku batin tadi seketika pecah ketika si gadis manis mulai tersenyum padaku. “Hai,..”, katanya sambil tersenyum. Ku balas hai juga. Dan kami pun ngobrol. Dan segera terjawab pertanyaan dalam batin ku tadi. Anak-anak itu adalah anak-anak kakaknya. Dia baru beberapa bulan yang lalu tiba disini. Dia ingin mencari kerja di sini. Sementara menunggu panggilan interview dia tinggal di rumah kakaknya. Kakaknya tinggal di blok belakang rumah kontrakanku. Maka yang diasuhnya itu adalah keponakannya, bukan anaknya. Hatiku mekar, belum terlambat. Kami cukup lama juga ngobrol di pinggir jalan dekat pos jaga depan rumah kontrakanku itu. Entahlah, pertama kali ku lihat dia tempo hari, dadaku berdesir jadinya. Pun begitu pula kali ini. wajahnya yang bulat, hidungnya yang mungil, matanya yang selalu berbinar tajam, serta bibrnya yang tipis. Dan yang paling tak mungkin terlupakan, cara dia tersenyum. Oh tidak, sulitnya aku mengungkapkan. Tapi ku rasakan ada sesuatu, yang entah apa, semacam kengerian yang luar biasa menakutkan ketika ku tatap matanya dengan alis yang sedikit naik di bagian ujung. Aku seperti takhluk oleh senyumannya. Sekaligus takhluk oleh sesuatu yang menakutkan di baliknya.
Mungkin sudah sejam lebih kami ngobrol. Selama itu pula, susah payah, ku tahan dadaku yang berdesir-desir. “Udah dulu yach. Udah sore nih. Anak-anak belum mandi”, katanya mengakhiri obrolan untuk pamit. Sebelum kami sama-sama beranjak meninggalkan tempat itu,  aku sempat menanyakan namanya. Dia menjawab, MAIAFANA