Monday, June 15, 2009

Malingsia vs Indonesial dan Maha Maling Sial

by: Galang Swatantra Ekajati

Tidak seperti biasanya setelah jadi wasit pertandingan sepak bola antar kampung di lapangan seperti sore tadi malamnya pastilah tak tampak batang hidungnya di warung mbak Nur, karena langsung ngorok dirumahnya karena capek, Kang Sumadi 'Jembut' kali ini ikut nimrung dalam obrolan kami di lincak warung mbak Nur malam itu. Kali ini lengkap, aku, Mbah Dul, Kang Marto 'Becak' yang bukan tukang becak melainkan petani itu ada disana.

"Pertandingan sepak bola tadi sore itu seru banget loh, To, sayang kamu ndak bisa nonton", Kang Sumadi membuka pembicaraan. "Lawong aku aku tadi masih 'ngarit', kalo ndak dapet rumput, sapiku dirumah mau makan apa?!", Kang Marto menerangkan kondisinya sehingga tidak bisa ninting pertandingan sepak bila sore tadi. "Saking serunya nih, sampe sampe kedua kesebelasan hampir saja baku hantam. Untunglah saya sebagai wasit selalu adil dan tegas menilai persengketaan", ucap Kang Sumadi berapi api sebab terlalu semangatnya. "Halah, ujung-unjungnya selalu menilai diri berlebihan, yang adil lah yang tegas lah, mbelgedes", Mbah Dul menyela sambil tertawa-tawa sampai kelihatan giginya. "Iya Kang Sumadi, aku dan mbah Dul tadi nonton juga kok, emang seru sih, tapi aku pikir terlalu kekanak-kanakan. Memang sih logika kalah-menang dalam pertandingan seperti itu mengharuskan para pemainnya memakai logika itu. Tapi ini kan 'pertandingan persaudaraan' apalagi dalam kerangka agustusan", aku ikut menimpali pembicaraan mereka.

"Kalau pengen yang lebih seru lagi dan lebih kekanak-kanakan lagi, adalah persengketaan Indonesia dan Malaysia itu, itu baru seru. Dan kenapa ku bilang kekanak-kanakan sebab dalam skala negara antar negara masalah ini hanya diselesaikan dengan kelas kampungan". Mbah Dul tersenyum, "Dek Bibit ini jangan sembrono loh, bilang-bilang kampungan begitu". "La gimana lagi to mbah, yang satu sudah jelas melanggar teritori negara tetangga tanpa ijin, eh bukannya minta maaf malah mengulangi pelanggarannya. Yang satu lagi karena pengen dibilang punya nasionalisme, karena tidak mau dibilang tidak tegas, tidak mau dibilang lamban, tidak menyelesaikan masalah pada akar permasalahan, malah sibuk kampanye". "Atau mungkin, karena selama ini dikenal lamban dan tidak tegas dalam memimpin, dan karena pengen nyalon lagi, maka pengen memperlihatkan ketegasannya?", Kang Marto menambahi.

"Kamu jangan su'udzon loh To!!", Mbah Dul memperingatkan. "Itu tadi tingkat pejabatnya, nah di tingkat akar rumput -meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya mewakili akar rumput-, pun ada yang 'reko-reko' bikin blog di internet, yang satu bertajuk indoncelaka dengan head Truly IndonesiaL, yang satu lagi malingsia. Yang isi-isi lebih ke 'panas-panasan' daripada menilai secara adil, obyektif, dan kekeluargaan". , lanjutku. "Malah yang satu nya membodoh bodohkan yang lain, yang satu lagi membabi-babikan yang lain, menganjing-anjingkan yanglain...dan lain sebagainya. Bener bener edan".

"Yo wes ngunu kuwi dek, dulur-dulur iku", Mbah Dul angkat bicara. "Bagaimanapun malaysia itu bisa dibilang 'adik' kita. Senakal-nakalnya adik, ya tetap adik kita. Mungkin sekali dua, bolehlah kita jewer kupingnya kalau masih bandel. Tapi sebagai kakak kita tidak bisa terus kemudian kehilangan rasa keadilan. Masing-masing seyogyanyalah pandai introspeksi diri. Karena terhitung adik sendiri, maka akan lebih baik jika masing-masing menghindari sikap kekanak-kanakan, ya selesaikanlah secara damai kepala dingin selayaknya saudara. Selain itu yang tak kalah penting untuk diperhatikan yakni kedua belah pihak harus mampu menghitung-hitung kalkulasi yang benar dan pada tempatnya, apa saja kerugian dan keuntungan bagi masing-masing pihak bila terus tetap berseteru? Kemudian siapa saja yang diuntungkan atas perseteruan ini, yang itu tentu saja bukan sang kakak maupun sang adik? Dua-duanya rugi dalam perseteruan ini, bukan? Apa tidak mungkin ini memang sudah direncanakan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mengeruk keuntungan dari perseteruan ini? Tapi sekali lagi kalau memang si adik ini mau menjual persaudaraan kita ini, apaboleh buat, ya harus di 'gedik ndase' ". "Iya mbah, saya dan seperti Kang Sumadi ini kan sudah terbiasa susah, ibaratnya makan batu pun kami bisa, apalagi mau cuman mau 'nglethak' kepalanya orang...orang seperti kami ini, meski di kampung sendiri 'soro' nya 'ngadubilah' tapi kalo harus perang 'mbela' negara dari musuh kami ndak gentar", kata Kang Marto nerapi api, yang langsung disahuti mbah dul, "Huss, mbok kalo ngomong nggak usah emosi begitu".

"Sebagai kakak seharusnyalah meneruskan niat baik sembari membimbing tanpa terkesan menggurui pun jangan sekalikali meninggalkan sikap adil, jika ini masih disalah-pahami, dan masih ditipu tipu juga, bukankah tuhan itu mempunyai sifat Al-Mudzil, maha menyesatkan, maha menjerumuskan, maha menipu dan mempedayai?".

"Tapi ngomong-ngomong pertandingan sepak bola finalnya nanti menang siapa?", Kang Marto nyeletuk, diikuti tawa kami yang merebak.

***
Reactions:

6 comments:

  1. Hello, I have visited your interesting blog , come and get you advertising on my blog.Put your link in comments,or in followers, on my blog pass visitors from 190 countries.Hallo
    http://internapoli-city.blogspot.com/

    ReplyDelete
  2. salam sobat trims kunjungannya..salam kenal juga nich...
    warung mba NUR yang pasti bukan saya kan..?

    saya disana jauh tempatnya masa sempat jaga warung disini,,he,,he







    /

    ReplyDelete
  3. INDON MALING

    Siapa sebenar nya yang meniru dan mencuri Malaysia atau indonesial ? Indon mengaku semua nya adalah miliknya. Lagu rakyat, makanan,batik, pulau, laut, lautan, selat, tanah, bukit, gunung dan biawak komodo. Indon menuduh Malaysia mencuri, mencontek, maling dan sebagainya. Indonesia juga banyak menciplak hampir semua .....

    Benderanya ditiru daripada bendera Poland. Lambang kerajaan pun ditiru dari poland. Sudah ada 2 yang indonesial tiru dari Poland. Hairan lah. Adakah ini kemungkinan atau memang mereka meniru. Memang indonesia dasar maling. Kalau Malaysia tiru bendera Amerika, sekurang-kurangnya Amerika menang perang dunia kedua. Poland kalah perang dunia kedua bong !!!... Apa yang hendak kamu banggakan dengan Poland. Malaysia beli kereta kebal (tank) dari Poland. Kah kahh kahhh !!!

    Nama indonesiaL ditiru daripada India dan russia. india + sia = indonesia. Kononnya mereka beranggapan Indonesia adalah negara kuasa besar setaraf dengan India dan Rusia dan ingin menandingi Amerika. Nama pun mahu di tiru. Tiada nama lainkah. Kamu yang selalu mencuri identiti Negara lain dan bukan Malaysia. Apakah kamu kekeringan idea? Dasar peniru, penciplak, pencontek dan maling. Dia yang maling, mengatakan bangsa lain yang maling. Kalau dah bodoh memang bodoh.

    Matawang nya pula ditiru daripada matawang Rupee dari India menjadi rupee-ah atau rupiah indonesiaL. Adakah ini juga kebetulan. Sudahlah nama negara hampir sama (Ind, India=indonesiaL) dan sekarang nama mata wang pula sama (Rupee=Rupee-ah=rupiah). Malangnya matawang Rupiah Indonesia hanyalah menjadi gelak ketawa di Malaysia. Ini adalah kerana nilainya yang terlalu amat rendah. Nilai satu juta rupiah (wow banyak tu) bernilai antara Ringgit Malaysia RM300 hingga RM 400 sahaja. Kah Kahh Kahhh ...

    Banyak lagi Indonesia mencuri idea dan budaya bangsa lain. Bangunan MONAS Indon juga ditiru daripada Washington Monument di Amerika.

    Dasar maling memang bangsa maling. Semua mahu ditiru. Semua lagu inggeris dan melayu mahu di dangdut kan oleh orang indonesiaL. Saya pernah mendengar lagu Cindai Siti Nurhaliza versi dangdut nyanyian penyanyi populer indonesia maling ini. Malah banyak lagi lagu melayu dan inggeris. Tiru semua lagu di dunia ini lah dan kamu tidak perlu bersusah payah mencipta lagu. Dasar maling pemalas ...

    ReplyDelete
  4. Indonesial National Anthem

    Indonesial tanah Cairku
    Tanah tumpah muntahku
    Disanalah aku merangkak hina
    Jadi kubur

    Indonesial negara miskin ku
    Bangsa Busuk dan Tanah Miskinku
    Marilah kita semua tidur
    Indonesial negara miskinku

    Mati lah tanahku
    Modar lah negriku
    Bangsaku Rakyatku semuanya
    Miskin lah jiwanya
    Tidurlah badannya
    Untuk Indonesial Miskin

    Indonesial Miskin
    Mampous Modar
    Datang kerja Malaysia
    Tapi TKI Jadi perampok
    Rompak Malaysia bawa wang ke Indon

    Indonesial Pendatang Haram
    Miskin lah Miskin lah
    Datang Haram ke Malaysia
    Tiada paspor
    Bila kena tangkap dan hantar balik
    Kata nya malaysia jahat

    Indonesial Negara Perampok
    Indonesial Menghantar perampok maling
    pekerja TKI Indonesial
    hantaq pi Malaysia

    Indonesial Maling
    Merampok lagu Malaysia
    Mengatakan itu lagu mereka

    Indonesial Tanah yang hina
    Tanah gersang yang miskin
    Di sanalah aku miskin Untuk slama-lamanya
    Indonesial Tanah puaka
    Puaka Hantu Kita semuanya
    Negara luas hasil bumi banyak tapi miskin
    Datang minta sedekah di Malaysia
    Marilah kita mendoa Indonesial brengset

    Gersang lah Tanahnya mundurlah jiwanya
    Bangsanya Rakyatnya semuanya
    Tidurlah hatinya Mimpilah budinya
    Untuk Indonesial Miskin

    Indonesial Tanah yang kotor Tanah kita yang Malang
    Disanalah aku tidur selamanya bermimpi sampai mati
    Indonesial! Tanah Malang Tanah yang aku sendiri benci
    Marilah kita berjanji Indonesial miskin

    Mati lah Rakyatnya Modar lah putranya
    Negara Miskin Tentera Coma pakai Basikal
    Miskinlah Negrinya Mundur lah Negara nya
    Untuk Indonesial kurap

    ReplyDelete
  5. Indonesia Raya diciplak dari lagu lama 1890s Lekka Lekka Pinda Pinda.... hi hi

    ReplyDelete